”Sebenarnya, stok BBM bersubsidi di depo Pertamina mencukupi. Namun, distribusi BBM dari depo menuju SPBU (stasiun pengisian bahan bakar untuk umum) terhambat. Ini kemungkinan terjadi karena banyak SPBU meminta tambahan stok dan kendala transportasi. Jadi, ada keterlambatan pengiriman BBM sampai lebih dari 6 jam,” katanya.
Secara terpisah, Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun menjelaskan, sampai 28 Juni 2011, realisasi konsumsi premium telah mencapai 11,3 juta kiloliter, padahal kuota yang ditetapkan dalam APBN 2011 sebesar 23,1 juta kiloliter. Sedangkan realisasi konsumsi solar 6,3 juta kiloliter, padahal kuota solar dalam APBN 2011 sebesar 12,99 juta kiloliter.
”Berdasarkan kuota bulanan, penyaluran premium sudah 105,2 persen di atas kuota. Sedangkan penyaluran solar telah mencapai 107,5 persen, yang artinya 7,5 persen di atas kuota yang ditetapkan,” kata Harun.
Tingginya realisasi konsumsi premium dan solar bersubsidi itu dipicu oleh peningkatan konsumsi masyarakat dan ada penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Harun menambahkan, lonjakan konsumsi BBM bersubsidi terutama terjadi pada BBM jenis minyak solar. Oleh karena, perbedaan harga minyak mentah dengan produk solar saat ini relatif tinggi, yakni 13,68 dollar AS per barrel. ”Dibandingkan beberapa negara lain, harga BBM bersubsidi di Indonesia tergolong rendah,” katanya.
Sebagai contoh, di Malaysia yang juga menerapkan subsidi, harga premium Rp 5.385 per liter dan solar Rp 5.101 per liter; di China harga premium Rp 9.776 dan solar Rp 10.361 per liter; di Thailand harga premium Rp 11.926, solar Rp 8.428 per liter; di Vietnam harga premium Rp 8.891, solar Rp 8.807 per liter; di India premium Rp 12.615 dan solar Rp 7.628 per liter; dan di Filipina harga premium Rp 10.828, solar Rp 8.765 per liter.
Untuk mengatasi kelangkaan BBM di daerah, manajemen Pertamina telah menambah pasokan BBM bersubsidi dan tidak membatasi penyaluran bahan bakar itu. Saat ini stok BBM bersubsidi sebesar 3,4 juta kiloliter, mencukupi untuk 22 hari ke depan.
”Kami mencoba menambah pasokan di daerah-daerah tertentu secara terukur, diharapkan pemerintah daerah dan aparat terus mengoperasi tindakan-tindakan penyalahgunaan BBM bersubsidi,” ujarnya.