Buruh migran

TKW Asal Kendal Hilang di Hongkong

Kompas.com - 05/07/2011, 17:07 WIB

KENDAL, KOMPAS.com — Tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia asal Desa Galih, RT 01 RW 01, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Juryati (40), hilang di Hongkong.

Juryati bekerja di Hongkong sejak empat tahun lalu. Pihak keluarga kebingungan menelusuri keberadaannya. Mereka juga sudah mendatangi PT Bama Mapan Bahagia, Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) asal Bogor yang memberangkatkannya. Namun, hasilnya tetap nihil. Pasalnya, PJTKI itu juga kehilangan jejak.

Juryati berangkat melalui petugas lapangan bernama Muntari, warga Desa Galih. Hanya saja, Muntari tidak terdaftar sebagai petugas lapangan di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans).

Demikian pula halnya PJTKI yang memberangkatkannya. Setelah upaya yang dilakukan menemui jalan buntu, akhirnya suami korban, Rohadiyanto, melaporkan kasus ini secara tertulis ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kendal.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Transmigrasi, Sutiyono saat dihubungi, Selasa (5/7/2011), membenarkan adanya laporan hilangnya Juryati yang menjadi TKW selama empat tahun di Hongkong.

Juryati berangkat sejak 17 Juni 2007 silam. Namun setelah itu, pihak keluarga sudah tidak dapat menghubunginya lagi. Sutiyono menyayangkan terjadinya kasus ini.

Sesuai Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI ke Luar Negeri, disebutkan bahwa petugas lapangan maupun PJTKIS dilarang/tidak diperbolehkan memberangkatkan TKI di suatu daerah, jika memang tidak memiliki wilayah kerja di kabupaten/ kota setempat.

Dalam waktu dekat, Dinsosnakertrans akan segera memanggil Muntari untuk diminta informasi soal nasib Juryati, termasuk PJTKI yang memberangkatkan Juryati ke Hongkong.

"Padahal sudah berulangkali disampaikan, jika ingin bekerja ke luar negeri sebaiknya mencari perusahaan yang memiliki cabang atau perwakilan di Kendal. Kalau ada apa- apa, pengurusannya lebih mudah dan cepat. Namun, dengan pertimbangan agar cepat berangkat, warga biasanya enggan melapor ke Dinsosnakertran. Kalau ada masalah seperti ini, baru mereka membutuhkan kami," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau