Beri Ruang bagi Warga

Kompas.com - 06/07/2011, 03:44 WIB

Jakarta, kompas - Pendidik Arief Rachman, Selasa (5/7), menegaskan, warga perlu diberi ruang berekspresi yang mencukupi guna menurunkan derajat ketegangan pemicu tawuran. Jika perlu, di setiap kawasan rawan kerusuhan ada unit kegiatan kepemudaan sebagai tempat penyaluran hobi dan pengembangan bakat anak usia sekolah.

”Penjagaan aparat keamanan memang diperlukan. Namun, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah bagaimana masyarakat di kawasan rawan itu bisa berkegiatan positif tanpa harus tawuran,” kata Arief.

Pendapat senada diungkapkan psikolog Lia Sutisna Latif. Menurut Lia, wadah sosial, seperti karang taruna atau lembaga swadaya masyarakat, mulai menghilang. Padahal, lembaga dengan kegiatan positif ini bisa menjadi tempat untuk mengumpulkan dan menghimpun aktivitas remaja di suatu tempat.

Arief menambahkan, tempat berkegiatan tersebut harus dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan selera kaum muda. ”Mungkin dunia teknologi informasi, kuliner, dan seni lebih disukai daripada sekadar diajak berkumpul berdiskusi,” katanya.

Berkegiatan positif sesuai dengan minat dan bakatnya akan mendorong anak usia sekolah mudah meningkatkan kepercayaan dirinya. Menurut Arief, tawaran solusi ini paling manjur karena pemuda diharapkan bisa menemukan jati dirinya.

”Masalahnya adalah tidak ada figur panutan di sekitar pemuda itu. Tidak ada aktor yang bisa memberi contoh berpikir dalam, toleran, dan berpikir positif. Untuk itu, perlu ada arahan kegiatan yang tepat agar mereka menemukan sisi positif dari dirinya sendiri,” ujar Arief.

Di sejumlah lokasi padat penduduk, Lia Sutisna Latif melihat persoalan imitasi buruk yang ditiru oleh anak-anak yang tinggal di situ. Imitasi perilaku buruk tersebut dimulai dari lingkup keluarga. Orangtua yang kerap mencaci maki dan berperilaku kasar menjadi contoh buruk bagi anak.

Contoh buruk dari keluarga ini akan semakin melekat pada anak manakala mereka berada pada lingkungan sosial yang buruk pula. Tawuran yang dilakukan remaja atau orang dewasa lantas ditiru anak. Akibatnya, kasus tawuran berlangsung turun-temurun di lokasi itu.

”Makanya, bagi orangtua, berusahalah membangun komunikasi dua arah dengan anak. Komunikasi yang baik bisa menyalurkan bimbingan yang tepat dan mencegah anak tergelincir,” kata Arief.

Masih didalami

Kawasan Pasar Rumput, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, yang menjadi lokasi tawuran, hingga kemarin tetap dijaga oleh aparat kepolisian. Namun, warga di Kelurahan Pasar Manggis telah beraktivitas seperti biasa lagi. Lalu lintas pun kembali normal.

Meskipun demikian, Direktur Intel dan Keamanan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Irfan mengatakan pihaknya terus mendalami kasus tawuran yang melibatkan warga Pasar Manggis dan tetangganya, warga Menteng Tenggulun, Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat.

”Tidak bisa langsung menyatakan tawuran itu disebabkan oleh ulah provokator. Kita lihat faktanya seperti apa. Sering kali memang timbul solidaritas yang sempit antarmasyarakat sehingga masalah yang kecil saja bisa berbuntut tawuran,” kata Irfan.

Menurut Irfan, permusuhan antarkelompok ini sudah menjadi turun-temurun. ”Ini bukan budaya, tetapi gambaran yang salah akan kelompok lain. Makanya, kita minta tokoh masyarakat setempat mengajak anak-anaknya sendiri untuk tidak hanyut dalam perseteruan seperti itu.”

Irfan menegaskan, jika nanti terungkap ada orang-orang tertentu yang menyebabkan tawuran, pasti akan ditindak tegas.

Lurah Menteng Eko Witarso mengatakan, kedua belah pihak sudah bertemu pada Senin malam untuk membuat komitmen agar tawuran tidak berulang.

”Pertemuan dihadiri pejabat tingkat Kelurahan Menteng dan Pasar Manggis, tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, kepolisian, dan sejumlah lembaga lainnya. Kami komitmen untuk mencegah tawuran terulang lagi,“ papar Eko. (ARN/ART/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau