”Penjagaan aparat keamanan memang diperlukan. Namun, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah bagaimana masyarakat di kawasan rawan itu bisa berkegiatan positif tanpa harus tawuran,” kata Arief.
Pendapat senada diungkapkan psikolog Lia Sutisna Latif. Menurut Lia, wadah sosial, seperti karang taruna atau lembaga swadaya masyarakat, mulai menghilang. Padahal, lembaga dengan kegiatan positif ini bisa menjadi tempat untuk mengumpulkan dan menghimpun aktivitas remaja di suatu tempat.
Arief menambahkan, tempat berkegiatan tersebut harus dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan selera kaum muda. ”Mungkin dunia teknologi informasi, kuliner, dan seni lebih disukai daripada sekadar diajak berkumpul berdiskusi,” katanya.
Berkegiatan positif sesuai dengan minat dan bakatnya akan mendorong anak usia sekolah mudah meningkatkan kepercayaan dirinya. Menurut Arief, tawaran solusi ini paling manjur karena pemuda diharapkan bisa menemukan jati dirinya.
”Masalahnya adalah tidak ada figur panutan di sekitar pemuda itu. Tidak ada aktor yang bisa memberi contoh berpikir dalam, toleran, dan berpikir positif. Untuk itu, perlu ada arahan kegiatan yang tepat agar mereka menemukan sisi positif dari dirinya sendiri,” ujar Arief.
Di sejumlah lokasi padat
Contoh buruk dari keluarga ini akan semakin melekat pada anak manakala mereka berada pada lingkungan sosial yang buruk pula. Tawuran yang dilakukan remaja atau orang dewasa lantas ditiru anak. Akibatnya, kasus tawuran berlangsung turun-temurun di lokasi itu.
”Makanya, bagi orangtua, berusahalah membangun komunikasi dua arah dengan anak. Komunikasi yang baik bisa menyalurkan bimbingan yang tepat dan mencegah anak tergelincir,” kata Arief.
Kawasan Pasar Rumput, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, yang menjadi lokasi tawuran, hingga kemarin tetap dijaga
Meskipun demikian, Direktur Intel dan Keamanan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Irfan mengatakan pihaknya terus mendalami kasus tawuran yang melibatkan warga Pasar Manggis dan tetangganya, warga Menteng Tenggulun, Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat.
”Tidak bisa langsung menyatakan tawuran itu disebabkan oleh ulah provokator. Kita lihat faktanya seperti apa. Sering kali memang timbul solidaritas yang sempit antarmasyarakat sehingga masalah yang kecil saja bisa berbuntut tawuran,” kata Irfan.
Menurut Irfan, permusuhan antarkelompok ini sudah menjadi turun-temurun. ”Ini bukan budaya, tetapi gambaran yang salah akan kelompok lain. Makanya, kita minta tokoh masyarakat setempat mengajak anak-anaknya sendiri untuk tidak hanyut dalam perseteruan seperti itu.”
Irfan menegaskan, jika nanti terungkap ada orang-orang tertentu yang menyebabkan tawuran, pasti akan ditindak tegas.
Lurah Menteng Eko Witarso mengatakan, kedua belah pihak sudah bertemu pada Senin malam untuk membuat komitmen agar tawuran tidak berulang.
”Pertemuan dihadiri pejabat tingkat Kelurahan Menteng dan Pasar Manggis, tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, kepolisian, dan sejumlah lembaga lainnya. Kami komitmen untuk mencegah tawuran terulang lagi,“ papar Eko.