Libya

Di Balik Dukungan Turki pada Arab

Kompas.com - 06/07/2011, 07:41 WIB

KOMPAS.com — Turki adalah salah satu negara yang semakin terlihat memiliki kepentingan bagi suksesnya gelombang revolusi Arab. Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu dalam temu pers bersama penanggung jawab urusan luar negeri Dewan Transisi Nasional (TNC), Ali Essawi di Benghazi, Minggu (3/7), menegaskan, Turki mengakui TNC sebagai satu-satunya wakil resmi rakyat Libya.

Davutoglu juga menyatakan, Turki mendukung tercapainya gencatan senjata di Libya dan sekaligus mundurnya Khadafy dari kekuasaan.

Sehari sebelumnya, hari Sabtu, Menlu Davutoglu dalam temu pers dengan Menlu Mesir Muhammad El-Orabi di Kairo menyampaikan, Mesir dan Turki akan mengumumkan berdirinya dewan tinggi strategi Mesir- Turki pada saat kunjungan PM Recep Tayyip Erdogan ke Mesir pada 21 Juli.

Davutoglu menegaskan, Turki mendukung peralihan secara damai ke arah era demokrasi di kawasan ini.

Turki saat ini juga menjadi negara yang paling keras menyuarakan pentingnya reformasi di Suriah. Turki pun menjadi tuan rumah konferensi pertama kaum oposisi Suriah yang digelar di kota wisata Antalia pertengahan Juni lalu. Turki kini juga menampung lebih dari 10.000 pengungsi Suriah yang lari dari aksi kekerasan di negaranya.

Kemenangan gemilang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan PM Erdogan dalam pemilu parlemen pada pertengahan Juni lalu membuat Pemerintah Turki merasa semakin memiliki legitimasi untuk mendorong dunia Arab segera melakukan langkah konkret menuju proses demokratisasi.

Minimal ada dua faktor dari kepentingan Turki dalam mendukung revolusi Arab itu. Pertama, Turki memiliki proyek besar di kawasan Timur Tengah. Hal itu adalah Turki ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Islam dan demokrasi tak bertentangan seperti yang terjadi di Turki saat ini.

Turki sangat menginginkan model demokrasi di dunia Arab nanti meniru seperti Turki. Kubu Islamis pun di dunia Arab bila berkuasa kelak bisa meniru AKP yang mampu menyinergikan antara Islam dan demokrasi. Ujung-ujungnya, jika Turki bisa memimpin Timur Tengah menuju era demokrasi, diharapkan bisa dijadikan modal untuk dipertimbangkan kembali menjadi anggota penuh Uni Eropa.

Kedua, dukungan kuat Turki terhadap revolusi Arab saat ini tidak terlepas dari bagian persaingan antara Turki dan Iran dalam memperebutkan pengaruh di dunia Arab.

Namun, Turki sementara ini tampak berada di atas angin lantaran ada titik singgung mazhab antara Turki dan dunia Arab, yakni sama-sama penganut mazhab Sunni. Selain itu, keberhasilan pemerintahan AKP di Turki memunculkan kekaguman di dunia Arab.

Adapun Iran yang menganut mazhab Syiah kurang menemukan pintu pengaruh dalam revolusi Arab. Sistem pemerintahan otokrasi di Iran dianggap bertentangan dengan cita-cita revolusi Arab yang menginginkan sistem pemerintahan demokrasi sipil.

Ditambah lagi, sikap Pemerintah Iran yang terang-terangan mendukung rezim Presiden Bashar al Assad di Suriah yang sedang menghadapi gelombang revolusi dari rakyatnya.

Karena itu, opini di dunia Arab saat ini baik di media massa, seminar, maupun talkshow televisi lebih mengidolakan model Turki daripada Iran. Tak heran jika para pejabat Turki kini getol mengunjungi negara-negara Arab untuk memanfaatkan peluang emas itu.

Bahkan, terakhir ini artikel tentang pentingnya mempertimbangkan model demokrasi Indonesia mulai muncul di media massa Mesir. Harian terkemuka Mesir, Al Ahram, dan harian independen, Misri al Youm, pernah menurunkan artikel tentang model reformasi di Indonesia.

Dua tokoh reformasi Indonesia, yaitu mantan Presiden RI BJ Habibie dan mantan Ketua MPR Amien Rais, sempat diundang ke Mesir pada awal Juni untuk berbicara tentang reformasi di Indonesia.

Itulah dunia Arab yang kini masih mencari model yang tepat menyangkut sistem demokrasi mereka. (MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau