RS Pemerintah Perlu Akreditasi Internasional

Kompas.com - 07/07/2011, 14:22 WIB

Kompas.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengharapkan rumah sakit pemerintah di Tanah Air bisa meningkatkan kualitasnya agar bisa memperoleh pengakuan internasional. Saat ini baru empat rumah sakit yang memiliki akreditasi internasional dan semuanya swasta.

Rumah sakit yang mendapat akreditasi internasional itu antara lain RS.Siloam Karawaci, RS.Bintaro Tangerang, Eka Hospital Tangerang dan RS Santosa Bandung.

"Target kita sesuai dengan rencana dan strategi 2010-2014 kementrian kesehatan kita punya rumah sakit pemerintah yang diakui internasional," katanya saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan MRCCC Siloam Semanggi Jakarta (7/7).

Ia mengatakan, saat ini Kemenkes sedang mencoba mendorong dan menfasilitasi diperolehnya pengakuan internasional kepada tujuh rumah sakit pemerintah, seperti RS Cipto Mangunkusumo, RS. Sanglah Denpasar,  RSPAD Gatot Subroto, RS. Fatmawati Jakarta, RS. Dr. Sarjito Yogyakarta, RS Adam Malik, dan RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo.

"Kami mengharapkan rumah sakit ini segera menyusul mendapatkan akrediatasi internasional," jelasnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau