SURABAYA, KOMPAS.com — Cerita pilu kembali datang dari seorang tenaga kerja Indonesia, yang kali ini dialami Rusmini, TKI asal Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, yang bekerja di Hongkong.
Dia kabur dari tempatnya bekerja karena tidak tahan dengan tekanan mental maupun fisik keluarga majikannya. Rabu (6/7/2011) kemarin, ibu tiga anak ini tiba di Surabaya setelah beberapa hari dirawat di shelter yang dikelola Migrant Institute di Hongkong.
Rusmini nekat meninggalkan rumah majikannya pada Mei lalu meskipun saat itu dia sedang sakit. Dia ditemukan pingsan di stasiun kereta api yang kemudian dibawa ke shelter penampungan TKI.
Perlakuan tidak manusiawi sudah dirasakan Rusmini ketika mulai bekerja di rumah majikan pada Agustus 2010 lalu. Di rumah itu, dia menjadi pengasuh anjing. Padahal, dalam perjanjian kerja dengan pihak PJTKI yang memberangkatkannya, yakni PT Bama Mapan Bahagia, Rusmini akan dipekerjakan sebagai pengasuh anak berusia 5-10 tahun.
"Kadang saya juga disuruh mengasuh dua anak majikan berusia 11 tahun dan 18 tahun yang nakalnya luar biasa," kata Rusmini saat ditemui Kompas.com, Kamis (7/7/2011).
Tugas sebagai penjaga anjing itu ternyata tertuang dalam surat kontrak berwarna hijau yang dikeluarkan PJTKI. Surat itu lengkap dengan tanda tangannya, sementara Rusmini merasa tidak pernah menandatanganinya.
Karena dianggap tidak bisa berkomunikasi dengan baik, Rusmini sering kali mendapatkan penyiksaan oleh semua anggota keluarga. Penyiksaan itu mulai dari pemukulan pada tubuhnya. Dia bahkan pernah dipaksa minum cairan pemutih pakaian dan matanya ditaburi bubuk merica.
Penyiksaan tidak berhenti sampai di situ. Selama sembilan bulan bekerja, ia tidak pernah sekalipun diizinkan keluar rumah. Gaji yang seharusnya diterima sebesar 3.580 dollar Hongkong (sekitar Rp 3,9 juta) juga menyusut menjadi 2.200 dollar Hongkong (sekitar Rp 2,4 juta).
"Tujuh bulan gaji saya habis untuk disetorkan ke agen," ungkapnya.
Tekanan itu membuat Rusmini mengalami depresi. Bahkan saat berada di bawah pengawasan Migrant Institute, dia sempat dirawat psikiater selama sebulan di salah satu rumah sakit di Hongkong sebelum akhirnya pulang ke Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang