Bahan makanan

Peternak Menikmati Kenaikan Harga

Kompas.com - 11/07/2011, 03:51 WIB

Jakarta, Kompas - Harga produk unggas seperti daging ayam dan telur naik sejak dua pekan lalu, dan diperkirakan kenaikan akan berlanjut maksimal 10 persen lagi menjelang dan selama hari raya Idul Fitri. Naiknya harga daging dan telur ayam menggembirakan peternak setelah tujuh bulan lamanya mereka didera kerugian.

Menurut Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia Anton J Supit, Jumat (8/7) di Jakarta, kenaikan harga daging dan telur ayam memberikan harapan bagi peternak dan keberlanjutan industri perunggasan nasional.

”Kita tentu tidak berharap harga daging dan telur ayam terus terpuruk sehingga industri unggas gulung tikar. Dengan kenaikan ini, ada harapan industri peternakan bisa bergerak kembali,” katanya. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah tidak perlu risau dengan kenaikan itu, karena sekadar menggerakkan lagi industri peternakan yang selama tujuh bulan terpuruk.

Dari Madiun, Jawa Timur, kalangan peternak ayam petelur mengaku sangat diuntungkan dengan momentum kenaikan harga telur yang menembus 26 persen dalam sepekan terakhir. Marjin peternak semakin besar ketika pada saat yang sama harga pakan turun hingga 4 persen.

Peternak ayam petelur dari Desa Mlilir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Ilfin Iswahyudi, mengatakan, harga telur saat ini di tingkat peternak mencapai Rp 14.500 per kg. Harga tersebut naik dibandingkan pekan lalu yang berada di level Rp 11.500 per kg.

”Fluktuasi harga telur hampir terjadi setiap hari dan cenderung terjadi kenaikan harga. Dua hari terakhir, harga telur turun tipis Rp 200 per kg, namun segera naik hingga Rp 14.500 per kg,” ujar Ilfin, Minggu (10/7).

Anton memperkirakan, naiknya harga daging dan telur ayam sebagai dampak keterbatasan pasokan di tengah naiknya permintaan. Pasokan berkurang karena banyak peternak tidak tahan dan sebagian bangkrut akibat harga produk unggas terpuruk lama.

Berdasar pantauan, sejumlah peternak skala kecil dan peternak unggas dengan modal terbatas gulung tikar akibat harga terpuruk. Hanya peternak bermodal besar yang mampu bertahan.

Ketua Umum Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional Hartono mengatakan, seleksi alamiah terjadi pada pelaku peternakan unggas. Mereka yang tidak mampu bertahan dan bangkrut tidak punya cukup modal untuk menutupi kerugian sejak Oktober 2010.

Hartono mengatakan, sejak dua pekan lalu, harga daging dan telur ayam membaik. Saat ini harga telur ayam di kandang Rp 15.500 per kg. Di tingkat konsumen Rp 18.000-Rp 20.000. Adapun harga pokok produksi per kg telur saat ini Rp 13.500-Rp 14.000.

Harga daging ayam di kandang Rp 16.000 per kg, sedangkan harga karkas Rp 28.000 per ekor. Bila mengacu perhitungan harga daging sapi 1,5 kali harga daging ayam, harga karkas masih wajar.

Harga daging dan telur ayam yang naik dinilai wajar, mengingat seluruh komponen biaya produksi, terutama pakan, naik. Saat ini, harga jagung di atas Rp 3.000 per kg dan katul di atas Rp 2.000. Begitu juga dengan komponen bahan baku lain. Harga ayam usia sehari atau day old chicken juga naik, mencapai Rp 5.250 per ekor.

(MAS/NIK/ACI/ILO/WIE/ WER/MKN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau