Suaib Katin (23) tidak mengira bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Semula ia merasa pesimis. Ayahnya meninggal sejak ia masih kelas III sekolah dasar. Untuk kehidupan sehari-hari, ibunya berjualan ikan di sebuah pasar di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Hasil berjualan ikan hanya cukup untuk makan sehari-hari Suaib serta dua kakak dan dua adiknya. Sebagian lainnya digunakan untuk biaya sekolah. Beruntung, setelah lulus SMA, dia diterima di Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Nusa Cendana, Kupang, serta mendapat beasiswa. Sebagian beasiswa ia gunakan untuk membayar uang kuliah Rp 600.000 per semester.
”Beasiswa sangat membantu saya dalam meraih cita-cita,” kata Suaib yang ingin menjadi guru Biologi. ”Saya ingin mengatasi ketertinggalan Nusa Tenggara Timur yang selalu terendah kualitas pendidikannya,” kata Suaib.
Elizabeth Aritonang (20) merasakan hal yang sama. Ayahnya yang sehari-hari membuka bengkel sepeda motor di Kabupaten Alor, NTT, hanya sanggup menyekolahkannya hingga SMA. Itu pun dengan perjuangan yang sangat berat. Terkadang ayahnya terpaksa berutang ke tetangga jika ada keperluan sekolah yang harus dipenuhi.
Ketika Elizabeth akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ayahnya meminta untuk menunda dulu karena kehabisan biaya. Beruntung ia memiliki ibu guru yang penuh perhatian. Ketika mengetahui ambisinya sangat besar untuk masuk ke perguruan tinggi, ibu guru itu mendaftarkan dia sebagai calon penerima beasiswa Bidik Misi.
Beruntung ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana. ”Jika lulus, saya ingin menjadi pengacara dan membela orang-orang kecil. Banyak sekali ketidakadilan dialami orang-orang miskin,” ujarnya bersemangat.
Firda N (19) juga tidak mengira bisa kuliah. Semula ia hanya bisa bermimpi menjadi mahasiswa. Kemiskinan yang melilit keluarganya sering kali membuat Firda kecewa karena banyak keinginannya yang tak tercapai. Ia pun harus mengukur kemampuan keluarganya.
Ayahnya yang lumpuh sejak ia duduk di kelas III SD membuatnya harus selalu prihatin. Ekonomi keluarga hanya bergantung kepada ibunya yang bekerja sekadarnya. Padahal, Firda mempunyai empat adik: yang masih duduk di bangku SMA, SMP, dan dua orang di SD.
Saat lulus SMA, ia diterima di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Nusa Cendana, serta mendapat beasiswa Bidik Misi Rp 6 juta per semester. Uang beasiswa itu ia gunakan membayar uang kuliah dan kursus bahasa Inggris.
”Selain ingin menjadi guru Bahasa Indonesia, saya juga ingin menjadi pemandu wisata, mengantarkan turis mancanegara menikmati keindahan alam NTT,” kata Firda.
Di tengah mahalnya biaya masuk perguruan tinggi negeri, adanya beasiswa memang ibarat oase bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin. Reny Ambesa, misalnya, lulusan SMA Negeri 1 Rote Tengah, NTT, hampir saja tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Setelah diterima di Jurusan Biologi, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana, ia mendapat beasiswa Bidik Misi Rp 6 juta per semester. ”Beasiswa ini menyelamatkan saya untuk meraih cita-cita,” kata Reny tentang beasiswa yang disediakan Kementerian Pendidikan Nasional.
Saat ini Kementerian Pendidikan Nasional menyediakan 20.000 beasiswa Bidik Misi senilai Rp 6 juta per semester. Beasiswa ini diharapkan dapat membantu membayar uang kuliah dan membeli buku serta biaya hidup mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
”Jangan sampai kemiskinan menjadi hambatan untuk kuliah dan menjadi sarjana,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.
Seleksi untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi sepenuhnya diserahkan kepada setiap perguruan tinggi. Kementerian Pendidikan Nasional mengucurkan dana itu ke setiap penerima.
Biasanya, perguruan tinggi menawarkan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mengusulkan penerima beasiswa. Hal itu karena pemerintah daerah yang mengetahui data siswa SMA yang kondisi ekonomi keluarganya miskin dan ingin melanjutkan kuliah.
Hasil rekomendasi pemerintah kabupaten/kota kemudian diperiksa kembali oleh perguruan tinggi. Di sisi lain, perguruan tinggi memang diwajibkan menyediakan 20 persen kursi bagi mahasiswa dari keluarga miskin.
”Khusus Nusa Tenggara Timur, mestinya kuota untuk mahasiswa miskin tidak 20 persen. Di provinsi ini masih banyak keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan,” kata Pembantu Rektor I Universitas Nusa Cendana David Pandie.
Angka partisipasi kasar perguruan tinggi di provinsi ini hanya 8,36 persen. Angka yang jauh jika dibandingkan dengan Yogyakarta, yang mencapai 67,54 persen, atau rata-rata nasional yang mencapai 17,93 persen. Namun, beasiswa mestinya bukan hanya dari pemerintah pusat, melainkan juga dari pemerintah daerah dan swasta agar anak-anak miskin bisa menggapai cita-cita mereka.