Mengenali "Bibit, Bebet, Bobot" Keuangan

Kompas.com - 12/07/2011, 10:29 WIB

KOMPAS.com - "Bibit, bebet, bobot" adalah gen yang menurun dari orangtua kepada anak-anaknya. Hal ini terkait nilai, ajaran, norma yang diperoleh seorang anak dari agama, budaya, serta pengalaman masa lalunya. Semua hal ini akan menjadi blueprint (mindset) atau pola pikir yang berada dalam pikiran bawah sadar dan tercermin dalam perilaku dan kebiasaan seseorang. Karenanya, Anda juga bisa mengetahui blueprint keuangan seseorang dengan berkomunikasi dengannya.

Mengenali blueprint keuangan penting bagi Anda sebelum memilih pasangan. Sehingga benarlah kata orangtua, bahwa sebelum memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidup, sebaiknya memilah dan memilih seseorang dengan pola keuangan sejalan. Selain juga memiliki visi jangka panjang ke depan. Cara berpikir seperti ini bisa menjadi dasar pijakan untuk melangkah bersama dalam berumah tangga.

Lantas bagaimana kalau sudah terlanjur cinta, namun ternyata blueprint keuangan tak sejalan? Apakah pola pikir seseorang dapat di-format ulang? Ya, bisa, namun memerlukan usaha yang cukup keras dan waktu yang relatif lebih lama. Anda perlu bersabar menghadapi perbedaan pola pikir, termasuk dalam keuangan. Pola pikir sudah menjadi karakter dan pola laku, yang diterapkan seseorang dalam berbagai tindakan di kehidupan sehari-hari.

Bagaimana cara mengetahui blueprint keuangan?
Mudah saja mengenali blueprint keuangan seseorang. Caranya, lakukan komunikasi keuangan dengan pasangan selama masa pacaran dan sebelum pernikahan. Dengan berkomunikasi terbuka, dan memperhatikan perilaku keuangannya, Anda dapat mengetahui pola pikir keuangan pasangan.

Pola pikir keuangan pasangan bisa dikenali dari beberapa perilaku seperti:
* Barang-barang yang dibelinya selama ini.
* Tagihan kartu kredit.
* Kebiasaannya membayar semua tagihan.
* Berapa gaji yang digunakan untuk berinvestasi.
* Apakah gaya hidupnya mencerminkan gajinya?
* Apakah gaya hidupnya terlalu mewah dan boros?
* Bagaimana pekerjaan dan prospek masa depannya dalam perusahaan tempatnya bekerja kini? * Apakah ia gemar mengembangkan diri dan mengikuti berbagai pelatihan keterampilan?

Mengetahui dan memahami seseorang sebelum memasuki gerbang pernikahan jauh lebih penting. Daripada menunggu dan membicarakannya setelah Anda berada dalam ikatan perkawinan. Komitmen dan kesepakatan sebaiknya dicanangkan sebelum semuanya terlambat. Sehingga Anda masih memiliki waktu untuk berpikir ulang, apakah tetap melangkah atau mundur beberapa langkah lebih dahulu.

Perkawinan adalah kesepakatan seumur hidup yang serius dan sakral, sehingga perlu dibangun dengan pondasi yang kokoh. Salah satunya adalah dengan mengetahui bibit, bebet, bobot dari masing-masing pihak.

(Chic/Freddy Pieloor, CFP, Financial Planner)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau