Memotret Individu Melalui Wawancara Kerja

Kompas.com - 12/07/2011, 14:20 WIB

KOMPAS.com - Sebuah perusahaan properti mencari seorang akuntan senior. Dari 100 calon, tersaring dua orang. Dan, akhirnya calon yang satu ini dipilih secara aklamasi. Ia tampak perfek, banyak referensi positif, bahkan lebih dari bagus. Semua orang puas dan merasa paling tidak karyawan baru ini akan membawa perbaikan. Beberapa bulan kemudian, setengah departemen akunting terpaksa bekerja lembur untuk  memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi karena ulah akuntan senior ini. Bila kita mendapatkan orang yang salah dalam tim, tiba-tiba kita berada dalam kesulitan besar. Kesalahan merekrut seorang sales manajer akan membuat angka penjualan menurun drastis. Kesalahan merekrut seorang spesialis komputer membuat manajemen informasi tidak terbaca pada waktunya. Kesalahan meluluskan bankir “nakal”, bahkan bisa merusak perekonomian negara.

Kita tentu sudah sering mendengar pernyataan ini: “Do you have the right people on the bus?”, atau “Getting the right talent is everything.” Siapa sih yang tidak mau mempunyai anggota tim dengan talenta yang terbaik? Kita tahu bahwa kita mengejar kesesuaian kompetensi yang kita butuhkan. Meskipun kompetensi yang kita inginkan nyata-nyata ada pada calon yang bersangkutan, tetap saja seringkali kita mengalami ketidakcocokan. Mengapa upaya ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan?

Proses seleksi memang bagaikan meramal. Tes yang tajam dan kepiawaian dalam melakukan interview memang kita butuhkan untuk bisa meramalkan keberhasilan kandidat di pekerjaannya dengan tepat. Dalam proses wawancara yang berlangsung selama paling banyak satu setengah jam, kita sudah harus cepat memotret dan membuat penilaian apakah seorang kandidat benar orang yang kita cari atau tidak.

Permainan interviu: pewawancara vs kandidat
Dari segala macam sumber, kita bisa melihat betapa banyaknya panduan untuk menghadapi interviu maupun untuk menginterviu. Pewawancara dan kandidat seolah beradu ketrampilan di ajang pembicaraan singkat ini. Untuk pelamar, ini adalah penentuan nasib, harga diri dan masa depannya.

Buat perusahaan, sukses dan gagal menginterviu tidak hanya berarti milyaran rupiah tetapi juga situasi kondusif dan moral dalam tim dan organisasi. Jadi, setiap perkiraan yang meleset berarti kekalahan. Si calon bisa gagal menyesuaikan diri padahal sudah meninggalkan pekerjaan terdahulu, hanya karena alasan-alasan yang tadinya dianggap sepele ketika proses wawancara, misalnya kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di perusahaan atau juga kulturnya. Perusahaan bisa melihat calon sebagai seorang yang sangat kompeten di bidangnya, tetapi misalnya, lupa mengecek caranya dalam  menghadapi orang luar yang tidak merepresentasi perusahaan.

Bila ternyata kinerja calon ini mempengaruhi kinerja perusahaan secara signifikan, kita bisa mengatakan bahwa kedua belah pihak memenangkan permainan. Tetapi, bila prestasinya ternyata biasa-biasa saja, maka perusahaan kalah karena tidak membayar sesuai yang diharapkan, sementara si karyawan yang direkrut menang karena mendapatkan tawaran yang dia ajukan. Di sinilah pihak yang menginterviu harus benar-benar sadar akan harapan, agendanya dan toleransinya terhadap derajat kelulusan seorang kandidat. Kita perlu meyakinkan diri kita sendiri bahwa seorang calon memang akan membawa perubahan yang signifikan di perusahaan. Keadaan ekonomi atau persaingan sering bukan menjadi hambatan berprestasi tetapi bisa menjadi alasan bagi individu untuk tidak berprestasi. Ini lagi-lagi merupakan alasan mengapa kita perlu meramal sikap dan kekuatan mental seseorang, sebelum merekrutnya.

Memotret yang terlihat dan tersembunyi

Bila kita analogikan kandidat sebagai sebuah mobil, maka kita akan lihat bahwa motivasi adalah bahan bakarnya. Mobil tanpa bahan bakar bisa berjalan mulus di turunan. Namun, untuk menempuh tanjakan, dibutuhkan bahan bakar. Untuk menghadapi pekerjaan yang sulit, kita tidak bisa mengandalkan orang yang biasa-biasa saja. Orang yang tergolong “high performer” adalah orang yang mampu menghadapi situasi jalan yang mulus, turunan dan juga tanjakan, dengan tetap sanggup menghasilkan kinerja yang luar biasa. Itu sebabnya pengetahuan, ketrampilan, bahkan pengalaman kerja tidak bisa semata menjadi penentu sukses dan gagalnya kandidat. Kita perlu meletakkan bobot yang sama besarnya terhadap aspek sikap, karakter kepribadian dan passion si kandidat. Hambatan di dalam pekerjaan ada di mana-mana, seperti rewelnya pelanggan, konflik dengan teman sekerja, tidak cukupnya pengetahuan, bahkan kemacetan tidak terduga. Tugas pewawancara adalah menyelidiki, seefektif apa kandidat dalam menghadapi hambatan.

Banyak di antara pewawancara yang sudah terlatih pun terjebak ke dalam gejala-gejala "halo efek", yaitu terpengaruhnya pewawancara oleh kesan pertama, stereotip, resume kandidat yang memukau atau kualitas tertentu dari si kandidat. Seringkali impresi yang tumbuh berdasarkan "gut feeling" ini menjadikan pewawancara tidak sempat menyusun pertanyaan yang terstruktur. Padahal, untuk menggali dorongan, kreativitas, rasa ingin tahu, keraguan, dan keyakinan kandidat, seorang pewawancara harus menyusun pertanyaan yang jitu sekaligus menguasai teknik-teknik interviu dan menciptakan suasana kondusif sehingga kandidat dengan sukarela membuka diri dan menampilkan kekurangan dan kelebihannya. Terlalu mahal biaya yang harus ditanggung jika dalam proses seleksi kita masih menggandalkan feeling, apalagi trial and error saja.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau