Jurnalisme warga

Beda Presiden SBY dengan Presiden Ma

Kompas.com - 12/07/2011, 21:00 WIB

Seorang pewarta warga Indonesia di Taiwan, Marlistya Citraningrum, menulis pengalamannya bertemu Presiden Taiwan Ma Ying-Jeou, saat naik kereta api umum tanpa pengawalan ketat dan diperlakukan seperti penumpang biasa. Pengalamannya itu ia tulis di social media Kompasiana sebagai berikut...

Tulisan ini tidak memiliki substansi politik. Tulisan ini juga tidak bermaksud mengkritik atau menjatuhkan, karena pada dasarnya saya hanya membandingkan. Tulisan ini dibuat karena Sabtu kemarin (9 Juli 2011), tanpa sengaja saya bertemu dengan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dalam perjalanan saya dari Taipei menuju Kaohsiung, dan karena hari ini saya membaca berita ini:

SBY ke Yogya, 28 Pesawat Terancam Delay

Sabtu lalu, saya dan teman-teman naik kereta Taiwan High Speed Rail (THSR) tujuan Kaohsiung (Zuoying) yang berangkat dari Taipei jam 7.30 pagi. Kereta dengan kecepatan rata-rata 220 km/jam ini memperpendek waktu tempuh Taipei-Kaohsiung (±320 km) yang normalnya ditempuh dalam 5 jam perjalanan darat menggunakan kereta biasa/mobil menjadi hanya 1,5 jam saja. Karena kepraktisannya, THSR menjadi pilihan pertama warga Taiwan (karena tidak perlu check in dan menunggu boarding), dan penerbangan lokal menjadi pilihan kedua. Kami memesan tempat duduk di gerbong 8, kelas ekonomi. Ada dua kelas di THSR, ekonomi dan bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah NTD 1490 (sekitar IDR 440.000) dan harga tiket kelas bisnis adalah NTD 1950 (sekitar IDR 582.000).

Sewaktu kami memasuki gerbong dan kemudian duduk di tempat yang kami pesan, tidak ada sesuatu yang istimewa. Semuanya biasa saja. Beberapa saat kemudian perhatian kami teralihkan melihat seorang fotografer (terlihat dari kamera profesional yang dia gunakan) sibuk mengambil gambar. Tempat duduk kami berada di tengah, dan kami melihat seseorang memasuki gerbong kami dari depan, bersalaman dengan beberapa penumpang yang duduk di bagian depan, dan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Kami baru menyadari itu adalah Presiden Ma ketika beliau berjalan menuju belakang, dan sempat menyalami salah satu di antara kami. Lalu meneruskan berjalan dan duduk di salah satu kursi di belakang. Nomor 16. Kursi kami nomor 7. Dan meninggalkan kami tercengang. Kaget. Saking kagetnya sampai tidak ada di antara kami yang sempat berpikir untuk memotret Presiden Ma.

Hanya begitu. No fuss. Beberapa orang dalam rombongan presiden itu pun biasa saja, tidak menggunakan setelan jas rapi, hanya kemeja dan celana panjang biasa, sama seperti Presiden Ma. Gerbongnya tidak dijaga khusus, tidak juga direserve untuk rombongan presiden. Dan itu gerbong kelas ekonomi. Tidak ada bodyguard berseragam, tidak ada pemeriksaan macam-macam untuk penumpang biasa. Dan penumpang lain yang ada di gerbong itupun tidak bereaksi berlebihan, sepertinya biasa melihat presiden mereka naik kereta penumpang biasa.

Lalu saya dan teman-teman sedikit bergunjing. Seandainya itu di Indonesia, apakah hal yang sama akan terjadi. Well, probably not. Lalu kebetulan tadi saya membaca berita itu. Memang pembandingannya bisa jadi kurang seimbang mengingat itu akan memakan terlalu banyak waktu jika bapak SBY naik kereta ke Yogya secara kita belum punya kereta supercepat seperti THSR. Tapi kok ya kurang mengapresiasi penumpang pesawat biasa yang terpaksa terlambat berangkat. Bagaimana jika ada janji penting, misalnya konferensi di kota tujuan? Pertemuan bisnis? Acara pernikahan?

Ah, saya hanya membandingkan saja. Maaf bila dirasa menyinggung.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau