Panja mafia pemilu

Putu: Andi yang Baca Surat Putusan MK

Kompas.com - 12/07/2011, 21:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi Pemilihan Umum I Gusti Putu Artha meluapkan emosinya karena sejumlah rekan lainnya tidak menjawab secara pasti pertanyaan anggota Panja Mafia Pemilu di DPR.

Panja mempertanyakan, siapa yang pada akhirnya memegang dan membaca surat jawaban putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 112 tertanggal 14 Agustus 2009 dalam rapat pleno pada 21 Agustus 2009. Putu dengan tegas menyatakan mantan komisioner KPU, Andi Nurpati yang membaca dan memegang surat tersebut.

"Saya marah di sini. Kalau ada kawan salah silahkan katakan saja. Memang betul Ibu Andi yang pegang surat itu, mereka (anggota KPU) semua tahu tapi tidak mau cerita. Janganlah kita melindungi diri sendiri dengan mencari aman," tutur Putu dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Mafia Pemilu, Selasa (12/7/2011) di DPR.

Ia menyebutkan bahwa semua bukti mengenai Andi yang membaca surat tersebut telah ada dalam rekaman KPU. Bahkan telah tercatat dalam risalah rapat pleno saat itu mengenai hasil rapat tanggal 21 Agustus 2009. Dalam rapat itu diputuskan bahwa Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I dari Partai Hanura, Dewi Yasin Limpo mendapat kursi dalam legislatif.

"Teman-teman sebetulnya sudah mengerti jalan ceritanya. Tadi kan kita sudah rapatkan. Yang bikin saya emosi teman-teman tidak ada yang mau jujur untuk cerita. Padahal risalah ada, rekaman ada," paparnya.

Dalam Rapat Pleno KPU pada 21 Agustus 2009 diputuskan bahwa Dewi Yasin Limpo memperoleh kursinya di legislatif. Berdasarkan rapat pleno itu pula, KPU meresmikan keputusan status Dewi pada rapat pleno kedua, 2 September 2009.

Namun demikian, sejak awal para anggota KPU mengaku tak ada yang tahu mengapa Andi bisa membaca hasil putusan itu. Padahal surat tertanggal 14 Agustus 2009 tersebut dikabarkan belum dikaji dan masih berada di Biro Hukum dan Biro Teknis KPU. Surat Nomor 112 palsu itu berisi penambahan suara untuk Dewi Yasin Limpo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau