Gubernur Minta Warga Tak Borong Sembako

Kompas.com - 12/07/2011, 21:40 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com — Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin meminta masyarakat tidak memborong bahan kebutuhan pokok menjelang Ramadhan untuk menghindari kenaikan harga yang signifikan.

"Persediaan kebutuhan pokok di Kalsel mencukupi. Saya harap masyarakat tidak panik dengan melakukan aksi borong," kata Gubernur di Banjarmasin, Selasa (12/7/2011).

Menurut dia, aksi borong pembelian kebutuhan pokok sebagaimana yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya sebagai salah satu pemicu terjadinya kenaikan harga berbagai macam barang kebutuhan di pasaran.

Sebab, kata Rudy, sebagaimana hukum pasar, semakin tinggi permintaan, maka akan memicu kenaikan harga karena persediaan menjadi terbatas.

"Bila masyarakat menyikapi persiapan Ramadhan ini seperti hari biasanya, kemungkinan harga barang di pasaran tidak akan terjadi lonjakan yang berarti," katanya.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi Kalsel, Endah Suhartati, mengatakan, menjelang puasa, pihaknya lebih intensif melakukan pemantauan pasar, termasuk persediaan dan stok barang.

Rata-rata, katanya, seluruh kebutuhan pokok, baik beras, tepung, dan gula, mencukupi hingga menjelang Lebaran. Bahkan, setiap hari berbagai kebutuhan pokok dari beberapa provinsi terus berdatangan.

"Sampai saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Persediaan masih mencukupi, apalagi tidak ada gangguan transportasi yang cukup berarti," katanya.

Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang Ramadhan, beberapa kebutuhan pokok mulai terjadi kenaikan harga karena permintaan yang mengalami peningkatan.

Seperti gula putih, naik Rp 200 per kilogram dari sebelumnya Rp 9.400 menjadi Rp 9.600 per kg, tepung terigu naik sekitar Rp 100 per kg dari sebelumnya Rp 6.500 menjadi Rp 6.600 per kg, lombok rawit naik Rp 4.000 dari sebelumnya Rp 51.000 menjadi Rp 55.000 per kg.

Sementara sayur-mayur dari Jawa mengalami kenaikan harga signifikan, seperti wortel sebelumnya Rp 7.000 menjadi Rp 9.000 per kg. Begitu juga dengan kentang sebelumnya Rp 9.600 menjadi Rp 9.700 per kg dan kubis sebelumnya Rp 5.300 menjadi Rp 6.500 per kg.

Kenaikan harga tersebut, kata Endah, dipicu karena beberapa faktor, antara lain pengiriman dari daerah asal yang berkurang akibat panen yang kurang bagus dan beberapa persoalan lainnya. "Naik turunnya harga sayuran sudah menjadi hal yang wajar dan biasanya tidak akan berlangsung lama," katanya.

Beruntung, untuk beras, telur, ayam, dan lainnya relatif stabil sehingga kenaikan harga sayuran dan kebutuhan pokok tidak terlalu berpengaruh terhadap perekonomian warga.

"Kalau di daerah lain, seperti Jawa, harga beras mengalami kenaikan cukup tajam. Kalau Kalsel, harganya justru turun. Hal ini cukup bagus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Kalsel," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau