Anda pernah melihat kereta rel listrik yang rombeng? Kaca tidak lengkap, lantai rusak, lampu tidak lengkap, atau penutup kipas yang rusak? Pemandangan tidak menyenangkan ini makin diperburuk oleh sampah yang berserak di dalam kabin kereta.
Sebagai sarana transportasi umum, keutuhan kereta rel listrik (KRL) memang tak bisa hanya mengandalkan kerja teknisi kereta. Kesadaran penumpang juga dibutuhkan untuk menjaga armada yang saban hari dinantikan oleh 400.000 penumpang.
Dalam sebuah diskusi, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Darmaningtyas pernah bertutur tentang pengalamannya di KRL. ”Ada penumpang yang mengganjal pintu kereta sehingga pintu tidak bisa tertutup. Tindakan ini merusak kereta. Tapi, sayangnya, sebagian besar penumpang hanya mendiamkan,” kata Darmaningtyas.
Begitu dia menegur penumpang yang merusak itu, malah tatapan curiga yang didapat. Penumpang yang merusak justru lebih galak ketimbang orang yang mengingatkan.
Alhasil, setiap kereta tampak butut saat masuk ke lokasi perawatan di Balai Yasa Manggarai atau tiga depo lainnya, yakni Depo Depok, Depo Bukit Duri, dan Depo Bogor. Kelengkapan kereta, seperti lampu, penyaput kaca (wiper), atau penutup panel elektrik juga banyak yang hilang.
Di balai yasa dan depo, kereta diperbaiki. Badan kereta dicuci dan kabinnya dipel. Setelah fisik dirapikan, giliran peralatan elektrik dan mesin dicek. Peralatan elektrik terletak dalam panel.
”Biar luar kotor, di dalam panel mesti kinclong. Kalau tidak, kerja elektronik di kereta akan terganggu,” ucap Manajer Unit Pendayagunaan dan Pemeliharaan KRL Lintas Irwansyah.
Selain itu, kelengkapan kereta juga disempurnakan. Bila ada barang yang hilang, diganti dengan barang baru. Hanya, tidak setiap saat kerusakan fisik bisa segera ditangani karena adakalanya tidak ada stok barang.
Tahapan perawatan kereta juga beragam, mulai dari perawatan harian, satu bulanan, tiga bulanan, enam bulanan, dan 2 tahun (overhaul). Tingkatan perawatan KRL di Jabodetabek bahkan lebih rapat ketimbang di Jepang, negara asal sebagian besar KRL. Overhaul di Jepang dilakukan saban 4-8 tahun sekali. Bila pola perawatan di Jepang diterapkan untuk KRL Jabodetabek, armada yang ada sudah keburu babak belur.
Selain karena perilaku penumpang yang masih sering merusak kereta, kepadatan penumpang yang melampaui kapasitas kereta serta penumpang yang duduk di atap juga ikut berpengaruh pada kerusakan kereta. Belum lagi bila ada orang iseng melempari kereta dengan batu. Ketersediaan listrik dan kondisi sepanjang rel yang penuh sampah pun turut memperparah kondisi kereta.
Perawatan kereta yang melibatkan semua pihak mendesak dilakukan untuk memperpanjang umur armada kereta. Apalagi, penambahan kereta, prasarana, serta dukungan infrastruktur lain di dunia perkeretaapian berjalan pelan-pelan.
Langkah tegas polisi menangkap pelaku perusakan kereta di Stasiun Jakarta Kota patut dipuji. Tindakan tegas itu mesti dilanjutkan untuk mengatasi berbagai perusakan lain.
Keterlibatan penumpang dalam merawat kereta juga menjadi satu kunci penting untuk memperpanjang umur KRL. Selain itu, pemerintah selaku regulator juga perlu menyediakan prasarana andal, memberikan subsidi yang memadai, dan mengawasi penggunaannya.