Transportasi

KRL-ku Sayang, KRL-ku Malang

Kompas.com - 13/07/2011, 04:43 WIB

Anda pernah melihat kereta rel listrik yang rombeng? Kaca tidak lengkap, lantai rusak, lampu tidak lengkap, atau penutup kipas yang rusak? Pemandangan tidak menyenangkan ini makin diperburuk oleh sampah yang berserak di dalam kabin kereta.

Sebagai sarana transportasi umum, keutuhan kereta rel listrik (KRL) memang tak bisa hanya mengandalkan kerja teknisi kereta. Kesadaran penumpang juga dibutuhkan untuk menjaga armada yang saban hari dinantikan oleh 400.000 penumpang.

Dalam sebuah diskusi, Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Darmaningtyas pernah bertutur tentang pengalamannya di KRL. ”Ada penumpang yang mengganjal pintu kereta sehingga pintu tidak bisa tertutup. Tindakan ini merusak kereta. Tapi, sayangnya, sebagian besar penumpang hanya mendiamkan,” kata Darmaningtyas.

Begitu dia menegur penumpang yang merusak itu, malah tatapan curiga yang didapat. Penumpang yang merusak justru lebih galak ketimbang orang yang mengingatkan.

Alhasil, setiap kereta tampak butut saat masuk ke lokasi perawatan di Balai Yasa Manggarai atau tiga depo lainnya, yakni Depo Depok, Depo Bukit Duri, dan Depo Bogor. Kelengkapan kereta, seperti lampu, penyaput kaca (wiper), atau penutup panel elektrik juga banyak yang hilang.

Di balai yasa dan depo, kereta diperbaiki. Badan kereta dicuci dan kabinnya dipel. Setelah fisik dirapikan, giliran peralatan elektrik dan mesin dicek. Peralatan elektrik terletak dalam panel.

”Biar luar kotor, di dalam panel mesti kinclong. Kalau tidak, kerja elektronik di kereta akan terganggu,” ucap Manajer Unit Pendayagunaan dan Pemeliharaan KRL Lintas Irwansyah.

Selain itu, kelengkapan kereta juga disempurnakan. Bila ada barang yang hilang, diganti dengan barang baru. Hanya, tidak setiap saat kerusakan fisik bisa segera ditangani karena adakalanya tidak ada stok barang.

Tahapan perawatan kereta juga beragam, mulai dari perawatan harian, satu bulanan, tiga bulanan, enam bulanan, dan 2 tahun (overhaul). Tingkatan perawatan KRL di Jabodetabek bahkan lebih rapat ketimbang di Jepang, negara asal sebagian besar KRL. Overhaul di Jepang dilakukan saban 4-8 tahun sekali. Bila pola perawatan di Jepang diterapkan untuk KRL Jabodetabek, armada yang ada sudah keburu babak belur.

Selain karena perilaku penumpang yang masih sering merusak kereta, kepadatan penumpang yang melampaui kapasitas kereta serta penumpang yang duduk di atap juga ikut berpengaruh pada kerusakan kereta. Belum lagi bila ada orang iseng melempari kereta dengan batu. Ketersediaan listrik dan kondisi sepanjang rel yang penuh sampah pun turut memperparah kondisi kereta.

Perawatan kereta yang melibatkan semua pihak mendesak dilakukan untuk memperpanjang umur armada kereta. Apalagi, penambahan kereta, prasarana, serta dukungan infrastruktur lain di dunia perkeretaapian berjalan pelan-pelan.

Langkah tegas polisi menangkap pelaku perusakan kereta di Stasiun Jakarta Kota patut dipuji. Tindakan tegas itu mesti dilanjutkan untuk mengatasi berbagai perusakan lain.

Keterlibatan penumpang dalam merawat kereta juga menjadi satu kunci penting untuk memperpanjang umur KRL. Selain itu, pemerintah selaku regulator juga perlu menyediakan prasarana andal, memberikan subsidi yang memadai, dan mengawasi penggunaannya. (Agnes Rita Sulistyawaty)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau