Karawang, Kompas
Kapri (43), tengkulak di Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari, Rabu (13/7), mengatakan, permintaan beras dari pedagang dan pengusaha penggilingan naik menjelang bulan Ramadhan ini. Namun, area panen sangat terbatas dan sebagian besar petani baru memulai tanam padi.
Harga gabah terdongkrak naik dari Rp 3.700-Rp 3.800 per kg gabah kering panen (GKP) pada bulan lalu menjadi Rp 3.900-Rp 4.100 per kg GKP, pekan ini.
”Tak mudah memperoleh gabah dalam situasi minim panen seperti sekarang. Karenanya, saya beli padi 2-3 pekan sebelum masa panen tiba, saat ini tarifnya rata-rata Rp 13 juta per bahu (7.000 meter persegi) dengan perkiraan produksi 5 ton GKP,” tutur Kapri.
Aziz (49), pedagang beras asal Purwakarta, menambahkan, stok beras di penggilingan milik beberapa penyuplai menipis sehingga dia terpaksa berburu gabah petani. Tanpa turun langsung ke lokasi-lokasi panen, sulit mendapatkan gabah atau beras dengan harga ekonomis. Apalagi pedagang dari luar wilayah juga memburu gabah petani.
”Tidak seperti pada panen musim rendeng, tidak mudah mencari gabah pada musim gadu karena petani umumnya menyimpan sebagian hasil panennya sebagai cadangan pangan keluarga,” ujar Aziz.
Panen padi musim ini mulai berlangsung di beberapa persawahan di Kabupaten Karawang, seperti di Jatisari, Telagasari, dan Majalaya. Area yang tengah dipanen antara puluhan hingga ratusan hektar dari total 94.000 hektar sawah di Karawang.
Kenaikan harga beras juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur, dan Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Bahkan, kenaikan harga beras di Surabaya turut memicu inflasi di Jatim pada Juni.
Di Pangkal Pinang, harga beras rata-rata naik Rp 300 per kg. Hingga Juni 2011, rata-rata harga beras Rp 7.500 per kg dan kemarin sudah menjadi Rp 7.900-Rp 8.000 per kg.
Di tengah-tengah kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, harga cabai rawit dan cabai merah di Kediri justru anjlok. Pada Maret-April lalu, harga cabai di tingkat petani sempat mencapai Rp 70.000 per kg.
”Sekarang harga cabai rawit tidak lebih dari Rp 9.000 per kilogram,” kata Darman (70), petani asal Desa Mekikis, Purwoasri.