MAKASSAR, KOMPAS
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Murny Amien Situru, Kamis (14/7), mengatakan, enam daerah itu adalah Kota Makassar dan Parepare, serta Kabupaten Gowa, Maros, Wajo, dan Bone. Badan Pusat Statistik Sulsel mencatat inflasi pada Juni di keenam daerah itu mencapai 0,6-0,9 persen, tertinggi dari 18 daerah lainnya. Kontribusi terbesar dari kebutuhan pokok, yang mencapai 0,45 persen.
Dinas perindustrian dan perdagangan, kata Murny, akan menyubsidi Rp 200 juta untuk 10.000 paket sembako yang dijual seharga Rp 25.000 per paket. Harga ini lebih murah hingga 20 persen dibandingkan di pasar.
Langkah ini diharapkan efektif menekan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi sepekan terakhir, seperti telur ayam, beras, dan minyak goreng curah.
Di Manokwari, rata-rata harga bahan makanan sudah naik di atas 10 persen dibandingkan dengan harga pada dua bulan lalu. Sejauh ini belum ada rencana pemda setempat menggelar pasar murah.
Di pasar tradisional, harga bawang merah dan bawang putih naik dari Rp 30.000 per kilogram menjadi Rp 32.000-Rp 35.000 per kg. Harga cabai rawit naik dari Rp 25.000 per kg menjadi Rp 35.000 per kg. Harga gula pasir naik dari Rp 11.000 per kg menjadi Rp 13.000 per kg.
Alan (59), pedagang kelontong di Pasar Wosi, Kamis (14/7), mengatakan, harga sayuran naik hampir dua kali lipat dari harga normal. Harga wortel dan kentang, misalnya, kini mencapai Rp 20.000 per kg, dari semula Rp 10.000-Rp 15.000 per kg.
Selain menjelang puasa, kenaikan harga ini juga akibat pasokan barang dari luar daerah tidak lancar. Rahayu (33) dan Yuliati (35), pedagang di Pasar Sanggeng, mengatakan, pasokan sayuran berkurang. Daerah Anggi di Manokwari yang memasok sayur belum panen dan pasokan sayur dari Manado seret akibat meletusnya Gunung Lokon.
Di Malang, Jawa Timur, ada tiga bahan pokok yang sangat mudah naik harga, yaitu beras, gula, dan telur.