Devino, Jelajahi Sumatera Dikepung Begal

Kompas.com - 15/07/2011, 14:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Devino Oktavianus mengaku sangat bersemangat mengikuti tur sepeda Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik Jakarta-Surabaya 2011. Bahkan, saking antusiasnya, dia membatalkan turnya keliling Jawa Barat.

"Tadinya saya mau keliling Jawa Barat bersama teman-teman dari Lampung. Tapi, begitu ditawari ikut kegiatan ini, saya langung setuju. Padahal, saya sedang bersepeda di Anyer dan langsung balik ke Jakarta demi gowes ini," aku Devino kepada Kompas.com, Kamis (14/7/2011).

Devino mengaku tak terlalu sukses sebagap pembalap. Namun, dia tak pernah lepas dari sepeda. Bahkan, dia siap menjelajah ke berbagai daerah.

Pada 2008, Devino sengaja ingin ke Sabang, Aceh dari Jakarta. Dia melakukannya sendirian, sebagai nadar pada ulang tahunnya.

"Secara total, saya melakukannya selama 38 hari dari Jakarta ke Sabang. Tapi, sebenarnya bisa lebih singkat. Saya sengaja menikmati perjalanan, karena sering berhenti dan keliling dulu di beberapa daerah yang menarik," jelasnya.

Ia memang sudah berkeliling ke banyak daerah dengan sepeda. Namun, menurutnya, tur Jakarta ke Sabang pada 2008 paling berkesan.

"Saat memasuki hutan Tanggamus di Lampung Barat, saya mengalami hal aneh. Saat itu menjelang magrib. Tiba-tiba, ban belakang kempes," tuturnya.

Dia tak mungkin menggantinya karena alasan keamanan dan keburu gelap. Sebab, dia juga harus membongkar bawaannya dulu sebelum mengganti ban.

"Maka, untuk memburu waktu, saya hanya pompa ban itu. Setelah keras jalan lagi. Kempes dipompa lagi. Begitu seterusnya," katanya.

"Begitu sampai di kampung pertama, ban tak kempes lagi dan memang tak ada kebocoran. Ini aneh. Seolah ada yang menggoda," tambahnya.

Kejadian menegangkan terjadi di perbatasan Bengkulu-Sumatera Barat. Saat itu dia melewati perkebunan kelapa sawit yang sepi dan juga menjelang magrib. Dia melewati dua pemuda yang bercakap dengan motor di sampingnya.

"Setelah saya sapa, dia kemudian meminta uang. Saya melaju, tapi terus dikejar," ujarnya.

"Kemudian, muncul sepeda motor lagi. Saya sempat mau minta tolong kepada mereka, tapi ternyata teman perampok juga. Saya coba menggeber sepeda sekuatnya. Tapi, kemudian ada mobil yang mengikuti dan ternyata mereka kawanan perampok juga," lanjutnya.

"Saya sudah hampir putus asa dan merasa bakal dirampok habis. Keadaan sepi. Untung, saya lihat ada para pekerja kebon sawit sedang menaikkan kelapa sawit ke truk. Saya langsung belok saja ke sana. para perampok itu kemudian cepat-cepat lari," tuturnya.

Ada pengalaman unik lain. Saat di perbatasan Riau, dia dilarang bersepeda oleh orang-orang sekitar. Sebab, dia akan melewati daerah para perampok yang rawan. Tapi, Devin nekat.

"Ternyata, saya malah dibantu para perampok. Mereka malam membayar makan saya dan mengajak ngobrol," jelas Devin. Satu pelajaran dari tur ini, ternyata setiap perbatasan banyak perampok.

Meski begitu, dia tak kapok bersepeda, bahkan tur ke mana pun. Mengikuti Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik Jakarta-Surabaya 2011, menurutnya, tantangan lain yang menarik.

"Sebab, ini tak hanya dituntut kekuatan bersepeda tapi juga kekuatan intuisi dan ketajaman melihat hal menarik dan penting di sepanjang perjalanan. Tentu, ini akan memperkaya tur," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau