Demokrat Cari Alasan Pecat Nazaruddin

Kompas.com - 15/07/2011, 16:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Demokrat saat ini tengah mencari alasan untuk memecat kadernya, M Nazaruddin, yang kini menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap pada proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan.

Nazaruddin, yang juga mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD), akan dipecat pada rapat koordinasi nasional Demokrat pada akhir Juli mendatang. "(PD) lagi melihat bukti-buktinya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini," kata anggota Dewan Kehormatan EE Mangindaan kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (15/7/2011).

Ketika ditanya bukti-bukti yang dimiliki partai, Mangindaan, yang juga Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, mengaku belum mengetahuinya. Dikatakan, selain Nazaruddin, ada kader lain yang akan dipecat dalam waktu dekat ini. "(Kader) yang digonjang-ganjingkan itu," ujarnya singkat ketika ditanya nama kader tersebut.

Selain Nazaruddin, kader lainnya yang tengah tersangkut kasus hukum adalah Ketua Komunikasi Publik Andi Nurpati, yang saat ini tengah diperiksa Mabes Polri terkait dugaan keterlibatannya dalam kasus pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi.

Ada pula sejumlah kader Demokrat yang disebut Nazaruddin terlibat dalam kasus suap wisma atlet, seperti Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum hingga anggota DPR Angelina Sondakh.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ketika berbicara kepada media di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, mengatakan, Partai Demokrat akan melakukan langkah koreksi terhadap sejumlah kecil kader yang ternyata melakukan perbuatan tercela.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau