UT Menjadi Alternatif Pilihan

Kompas.com - 16/07/2011, 04:22 WIB

Jakarta, Kompas - Universitas Terbuka bisa menjadi alternatif pilihan di tengah mahalnya masuk perguruan tinggi negeri. Selain biayanya relatif murah, waktu belajarnya pun fleksibel, dan bisa dijangkau masyarakat di daerah mana pun serta banyak program studi pilihan.

”Tidak benar jika Universitas Terbuka (UT) hanya untuk karyawan atau orang setengah baya. Kini, Universitas Terbuka justru semakin diminati mahasiswa berusia muda,” kata Rektor UT Tian Belawati di Jakarta, Jumat (15/7).

Pada tahun 2008, misalnya, jumlah mahasiswa berusia 18-24 tahun di universitas berstatus negeri ini baru sekitar 2.200 orang per semester. Namun, pada tahun 2011 jumlah mahasiswa baru usia 18-24 tahun hampir 12.500 orang.

”Kami memang ingin membuka akses yang luas bagi lulusan SMA sederajat untuk bisa kuliah di UT,” kata Tian Belawati.

Dalam empat tahun terakhir, tercatat 49.037 mahasiswa baru yang berusia 18-24 tahun. Mahasiswa baru di program non-guru sebanyak 20.415 orang dan mahasiswa baru guru sebanyak 28.622 orang.

Adapun total mahasiswa UT dari berbagai kelompok usia saat ini sekitar 622.000 orang. Jumlah mahasiswa berusia 18-24 tahun memang belum dominan.

Tian mengatakan, kuliah di UT lebih menekankan belajar secara mandiri dengan memanfaatkan modul dan sumber belajar online di website UT. Tutorial tatap muka yang disampaikan dosen perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta sekitar delapan kali per semester.

Adapun perkiraan biaya mahasiswa sampai selesai program S-1 di UT sekitar Rp 12 juta. Biaya ini sudah termasuk untuk bahan ajar dan tutorial.

Manajemen favorit

Pembantu Rektor IV UT M Gorky Sembiring mengatakan, program studi yang banyak diminati adalah S-1 Manajemen dan Administrasi Negara. Program-program baru yang mulai populer adalah Komunikasi, Akuntansi, Kearsipan, dan Bahasa Inggris.

Mahasiswa UT hampir 40 persennya berada di Pulau Jawa. Disusul di wilayah Sumatera hampir 30 persen, Sulawesi, dan Kalimantan. Adapun mahasiswa di Papua dan Maluku baru sekitar satu persen.

Tian mengatakan, pada prinsipnya UT sangat menyambut amanat Menteri Pendidikan Nasional untuk peningkatan angka partisipasi perguruan tinggi di Indonesia. Kementerian Pendidikan Nasional mendata penduduk berusia kuliah (19-23 tahun) yang terdaftar di perguruan tinggi ada sekitar 5,2 juta orang. Jumlah itu mencakup 24,67 persen dari 21,18 juta pemuda yang mestinya berkuliah.

Sejak tahun lalu, UT membuka program Sistem Paket Semester Usia (Sipas) 1923. Program ini dimaksudkan untuk menyasar pemuda usia 19-23 tahun untuk kuliah, khususnya yang baru saja lulus dari SMA.

Program ini dilaksanakan dengan pola kemitraan bersama dengan perguruan tinggi lain di daerah-daerah. Sebanyak 37 Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT di seluruh Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi daerah untuk memperkuat layanan pendidikan yang bermutu dengan bahan ajar yang distandar UT.

Tian menjelaskan, program Sipas 1923 yang sudah berjalan, antara lain, di Universitas Muhammadiyah di Sukabumi dan Universitas Maritim Raja Ali Haji, Batam. ”Peminatnya cukup banyak. Bisa 3-4 kelas atau sekitar 100 orang,” ujar Tian.

Pada tahun ini, program serupa juga dibuka dengan kerja sama bersama Universitas Udayana dan STISIP Margarana Tambanan, Bali; Universitas Jember, dan Universitas Riau. Lulusan SMA sederajat yang tidak lolos dalam seleksi nasional masuk PTN disasar, jumlahnya sekitar 400.000 orang.

”Kami ingin semua lulusan SMA di daerah mana pun tidak terhalang keinginannya untuk kuliah dengan biaya terjangkau,” ujar Tian. (ELN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau