Impor beras

India dan Pakistan Pemasok Alternatif

Kompas.com - 16/07/2011, 04:24 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah mulai menjajaki pemasok beras alternatif, selain Thailand dan Vietnam. Tujuannya untuk mengantisipasi kenaikan harga di Asia Tenggara karena perubahan politik di Thailand. Impor beras tersebut akan dipakai untuk cadangan stok nasional, mengantisipasi musim paceklik di pengujung tahun.

”India dan Pakistan jadi pilihan kami. Mereka kami jajaki karena keduanya dikenal sebagai eksportir beras. Untuk waktunya kapan kami impor serta berapa banyaknya, masih kami bahas bersama,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, Jumat (15/7).

Harga beras di Thailand merambat naik setelah pemerintahan baru terpilih. Perdana Menteri terpilih Yingluck Shinawatra berencana membeli gabah petani untuk menjamin harga pada posisi Rp 4,3 juta per ton. Caranya dengan kebijakan pembelian beras langsung dari petani dengan harga di atas harga pasar.

Menurut Mari, selama ini Indonesia banyak mengandalkan pasokan dari Vietnam dan Thailand melalui mekanisme pemerintah (government to government/G to G). ”Meski mekanismenya G to G, pelaksanaan dilakukan oleh swasta (business to business),” katanya.

Secara terpisah, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, pihaknya siap memantau harga beras internasional agar Indonesia bisa mendapatkan harga terbaik.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengatakan, berbagai program bantuan petani untuk peningkatan produksi beras nasional belum sampai ke petani. Misalnya, bantuan langsung benih unggul dengan anggaran Rp 1,5 triliun dan bantuan langsung pupuk langsung pupuk organik seluas 550.000 hektar.

Selain itu, dana asuransi gagal panen seluas 100.000 hektar juga belum cair, padahal dana tersebut sangat dibutuhkan petani untuk modal produksi kembali.

”Bantuan benih tahun ini akan terlambat karena sampai sekarang saja benih belum disalurkan. Padahal, pada waktu bantuan dijalankan dengan pola pelayanan publik, tidak ada kendala apa pun karena tidak harus melalui proses tender,” kata Winarno. (MAS/ENY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau