Lapor FIFA, Opsi Terakhir Riedl

Kompas.com - 16/07/2011, 07:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelatih asal Austria, Alfred Riedl, akan mengadu kepada Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sebagai opsi terakhir jika hak-hak dirinya yang tertera dalam kontrak tak dipenuhi PSSI. Sesuai kontrak, PSSI diperkirakan harus membayar dia kompensasi Rp 1,5 miliar.

Riedl yang melatih timnas Indonesia sejak Mei 2010 menyatakan, dirinya memegang surat perjanjian kontrak dengan PSSI. Ia memastikan surat perjanjian kontrak itu 100 persen sah karena ditandatangani Nirwan Bakrie selaku Wakil Ketua Umum PSSI dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes dengan stempel PSSI.

”(Mengadu kepada) FIFA tentu saja menjadi opsi terakhir. Hal itu juga disebutkan dalam kontrak. Anda pergi mengadu kepada FIFA jika tidak menemukan kata sepakat,” kata Riedl dalam jumpa pers yang dipadati wartawan di pusat perbelanjaan kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (15/7/2011).

Wartawan meminta Riedl agar memperlihatkan surat perjanjian kontraknya dengan PSSI. Pelatih berusia 61 tahun itu mengatakan, surat perjanjian kontrak itu dia simpan di bank yang bakal ditunjukkan kepada pengurus baru PSSI sebagai satu langkah penyelesaian masalah pemecatan.

Riedl dipecat dari jabatan pelatih timnas Indonesia oleh kepengurusan baru PSSI yang dipimpin Djohar Arifin Husin, Rabu lalu. PSSI beralasan, selain tak menemukan surat kontrak Riedl di kantor sekretariat PSSI, juga menilai kontrak Riedl hanya disepakati dengan Nirwan selaku pribadi, bukan dengan PSSI.

”Sepanjang menjadi pelatih, saya tidak pernah menjalin kontrak dengan perusahaan swasta atau pribadi karena jika hal itu saya lakukan, saya tidak dapat mengadu ke FIFA apabila ada masalah,” katanya.

Sejak mengawali karier kepelatihan pada 1990, mantan striker itu pernah melatih beberapa tim nasional (Austria, Liechtenstein, Vietnam, Palestina, Laos, dan terakhir Indonesia) serta sejumlah klub di Maroko, Mesir, Kuwait, dan Vietnam.

Ia menilai, pemecatan yang dia alami di Indonesia sangat aneh. Ia tidak diberi tahu langsung soal pemecatan dirinya dan mengetahui pemecatan tersebut lewat media. ”Anda bisa merekrut seseorang dan memecat seseorang, tetapi seharusnya itu dilakukan secara pantas,” katanya.

15.000 dollar AS per bulan

Riedl tidak bersedia mengungkap detail kontraknya. Menurut asisten pelatih, Wolfgang Pikal, yang mengaku melihat langsung surat perjanjian kontrak itu, Riedl dibayar 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 127,9 juta per bulan.

”Dua bulan sebelum ini, Riedl belum dibayar,” kata Pikal kepada Kompas. Mengingat kontrak Riedl berakhir 6 Mei 2012, dana yang harus disiapkan PSSI untuk membayar kompensasi Riedl diperkirakan sekitar Rp 1,5 miliar.

PSSI saat ini mengalami krisis keuangan menyusul tidak adanya dana tersisa—bahkan, kata eks Pelaksana Tugas Sekjen PSSI Joko Driyono, minus—dari kepengurusan lama pimpinan Nurdin Halid. Meski demikian, anggota Komite Eksekutif PSSI koordinator timnas, Bob Hippy, mengatakan, PSSI akan menghormati kontrak Riedl jika PSSI mendapatkan kontrak sah itu.

Latihan perdana timnas

Sementara itu, tim Pra-Piala Dunia (PPD) yang dipersiapkan menghadapi Turkmenistan memulai latihan pertama di Lapangan Timnas, kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat sore. Latihan dipimpin asisten pelatih, Rahmad Darmawan.

Pelatih timnas yang akan direkrut PSSI, Wim Rijsbergen, datang ke tempat latihan, tetapi ia meninggalkan lapangan sebelum latihan berakhir. (SAM)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau