Bom bima

Penangkapan Abrory Direkayasa

Kompas.com - 16/07/2011, 13:41 WIB

BIMA, KOMPAS.com — Proses penangkapan pimpinan Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Abrory M Ali, ternyata direkayasa. Abrory tidak ditangkap paksa, tetapi menyerahkan diri.

Abrory juga baru sampai di Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, Mataram, Lombok, hari ini, Sabtu (16/7/2011). "Orang yang dibawa polisi menggunakan helikopter dari Bandara Sultan Salahuddin, Jumat siang, bukan Abrory itu," kata ayah kandung Abrory, Aly Ghani al-Wahyubi, saat ditemui di rumahnya di Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, Sabtu siang.

Menurut Aly, Abrory yang asli dijemput polisi dengan baik-baik di rumah orangtuanya dan dibawa ke Polres Dompu yang berjarak sekitar 30 kilometer dari rumah tersebut. Abrory baru dibawa ke Polda NTB, Mataram, pada Sabtu pagi melalui jalan darat.

Sementara itu, proses penangkapan pada Jumat siang yang disiarkan di televisi dan media cetak, orang yang disebut Abrory tampak diborgol dan dijaga ketat. Abrory palsu itu memakai jaket coklat dan celana jeans biru.

"Anak saya itu dijemput polisi pakai celana kain abu-abu, baju koko putih, dan jaket hitam," kata Aly.

Abrory dibawa ke Polres Dompu tanpa diborgol. Aly menemani Abrory bersama Kepala Polda NTB Brigadir Jenderal Arif Wachyunadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau