Pemkot Kewalahan Urusi Pengungsi Lokon

Kompas.com - 17/07/2011, 04:09 WIB

Manado, Kompas - Pemerintah Kota Tomohon, Sulawesi Utara, kewalahan menangani ribuan pengungsi Gunung Lokon yang ditampung di sejumlah gedung sekolah dan balai pertemuan. Gedung sekolah segera digunakan untuk belajar mengajar, belum lagi keterbatasan logistik.

Dari enam lokasi pengungsian di Kota Tomohon, empat lokasi di antaranya menggunakan gedung sekolah yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar mulai Senin (18/7), yakni SMA Kristen Tomohon, SMA Binsus, SMP Negeri I, dan SD GMIM 7.

Sampai kemarin pengungsi yang masih bertahan di lokasi pengungsian sekitar 4.836 orang. Jumlah ini berkurang dibandingkan tiga hari lalu yang mencapai lebih kurang 6.000 orang. 

”Demi kelancaran proses belajar mengajar di empat sekolah itu, para pengungsi akan dipindahkan ke sejumlah balai desa di Kota Tomohon,” kata Komandan Satuan Tugas Bencana Gunung Api Lokon, Arnold Poli, Sabtu di Tomohon.

Ia juga menjelaskan, saat ini ketersediaan makanan untuk pengungsi hanya sampai tiga hari ke depan. Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi belum memberi rekomendasi untuk penurunan status Gunung Lokon, bahkan hingga pekan depan. Kondisi tersebut memaksa perlunya penyiapan logistik bagi pengungsi.

Sejauh ini, menurut Arnold, Pemerintah Kota Tomohon baru menerima sumbangan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana senilai Rp 300 juta dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk kegiatan tanggap darurat.

Masalah itu disampaikan Arnold Poli kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono yang mengunjungi lokasi pengungsi di Tomohon, Sabtu petang. Saat itu Menko Kesra langsung menyerahkan bantuan untuk korban bencana Gunung Lokon sebesar Rp 500 juta.

”Saya berharap Pak Menko Kesra dapat menambah bantuan lagi apabila situasi Gunung Lokon dalam tiga hari ke depan belum normal,” ujar Arnold.

Ditambahkan, kebutuhan dana masih cukup besar. Apalagi, pada Minggu, ribuan pengungsi yang selama ini berada di empat gedung sekolah akan direlokasi ke sejumlah balai desa di Kota Tomohon.

Siapkan bantuan

Agung Laksono mengatakan, pemerintah pusat akan terus membantu masyarakat yang mengalami bencana sampai situasi normal. Ia telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial mengenai logistik bagi korban bencana dengan bantuan beras 100 ton yang dapat diambil dari gudang Dolog.

Selain bantuan beras dan uang, menurut Agung, pemerintah pusat juga membangun infrastruktur yang rusak akibat bencana. ”Silakan buat laporan penanggulangan bencana kepada kami, dan berapa banyak dana yang dibutuhkan,” ujarnya.

Mengenai keberadaan pengungsi di sekolah, Agung berpendapat, pemerintah daerah perlu mencari solusi secepatnya serta menentukan tempat yang layak untuk menampung pengungsi agar tak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah. Dengan demikian, proses belajar tetap berjalan sesuai jadwal dan para pengungsi pun tetap bertahan di lokasi yang aman.

Farid Ruskanda, petugas Pos Pengamat Gunung Api Lokon dan Mahawu, mengatakan, aktivitas vulkanik Gunung Lokon mulai mereda. Namun, di puncak kawah Tompaluan masih mengeluarkan material abu tipis dan asap putih pada Sabtu pukul 14.50.

Penurunan drastis aktivitas vulkanik ditandai dengan berkurangnya gempa vulkanik dan gerakan magma di perut gunung. Sepanjang Sabtu pagi hingga siang hari hanya terekam dua kali gempa vulkanik.

Menurut Farid, penurunan itu tak berarti ancaman Gunung Lokon berakhir. Gerakan vulkanik gunung tersebut sulit diprediksi, bahkan sewaktu-waktu berpeluang menimbulkan erupsi.

”Karena itu, kami masih memberi status awas,” kata Farid.(zal)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau