Sail Wakatobi-Belitong 2011 Dimulai

Kompas.com - 17/07/2011, 04:10 WIB

WANGI-WANGI, KOMPAS - Kegiatan bahari internasional Sail Indonesia Wakatobi-Belitong tahun 2011 resmi dimulai di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (16/7). Selain sebagai ajang promosi wisata, kegiatan ini diharapkan mempercepat kemakmuran di daerah yang menjadi tuan rumah.

Prosesi pembukaan digelar di Lapangan Merdeka, Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sultra, oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dengan pemukulan beduk. Turut hadir Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Gubernur Sultra Nur Alam, dan Bupati Wakatobi Hugua.

Dikatakan, Sail Wakatobi-Belitong (SWB) 2011 diharapkan makin mengukuhkan Indonesia sebagai negara bahari. Selain itu, sebagai upaya percepatan pembangunan daerah, khususnya di kepulauan. ”Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di kedua daerah yang masih minim, seperti jalan dan bandara,” kata Agung Laksono.

19 negara

Wakatobi dipilih menjadi salah satu tuan rumah tahun ini karena menjadi pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, di mana hidup 85 persen dari 700 spesies terumbu karang. Wilayah yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1996 itu juga menjadi pusat segitiga karang dunia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, inti kegiatan Sail Indonesia adalah reli kapal layar internasional bertiang tinggi. SWB 2011 diikuti 115 peserta dari 19 negara yang akan mulai bertolak dari Darwin, Australia, pada 23 Juli. Para peserta akan berkeliling dan menyinggahi 21 kabupaten seluruh Indonesia sebelum melanjutkan pelayaran menuju Singapura.

Kapal layar mewah ini mengangkut dua orang. Di dalam kapal seharga Rp 15 miliar itu dilengkapi berbagai peralatan kompas, radar, dan komunikasi yang cukup canggih.

Pada dua tahun terakhir, Sail Indonesia digelar di Bunaken, Sulawesi Utara, dan Banda, Maluku. ”Tahun depan rencananya akan digelar di Morotai, Maluku Utara,” ujarnya.

Bupati Wakatobi Hugua berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran warga untuk terus melestarikan lingkungannya agar bisa digunakan untuk mencapai kesejahteraan.

”Kekuatan Indonesia dari sektor pariwisata adalah kekayaan ekowisata. Kalau kita mau maju, harus didorong dari kekuatan itu, yang tidak dimiliki negara lain,” katanya.

Dikatakan. Wakatobi membutuhkan bantuan pemerintah pusat guna membangun infrastruktur, terutama bandara dan jalan.

”Saat ini, Bandara Matahora, Wakatobi, hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil. Kondisi jalan banyak yang rusak dan tak beraspal,” kata Hugua.(ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau