WANGI-WANGI, KOMPAS -
Prosesi pembukaan digelar di Lapangan Merdeka, Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sultra, oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dengan pemukulan beduk. Turut hadir Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Gubernur Sultra Nur Alam, dan Bupati Wakatobi Hugua.
Dikatakan, Sail Wakatobi-Belitong (SWB) 2011 diharapkan makin mengukuhkan Indonesia sebagai negara bahari. Selain itu, sebagai upaya percepatan pembangunan daerah, khususnya di kepulauan. ”Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di kedua daerah yang masih minim, seperti jalan dan bandara,” kata Agung Laksono.
Wakatobi dipilih menjadi salah satu tuan rumah tahun ini karena menjadi pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, di mana hidup 85 persen dari 700 spesies terumbu karang. Wilayah yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak 1996 itu juga
Seperti tahun-tahun sebelumnya, inti kegiatan Sail Indonesia adalah reli kapal layar internasional bertiang tinggi. SWB 2011 diikuti 115 peserta dari 19 negara yang akan mulai bertolak dari Darwin, Australia, pada 23 Juli. Para peserta akan berkeliling dan menyinggahi 21 kabupaten seluruh Indonesia sebelum melanjutkan pelayaran menuju Singapura.
Kapal layar mewah ini mengangkut dua orang. Di dalam kapal seharga Rp 15 miliar itu dilengkapi berbagai peralatan kompas, radar, dan komunikasi yang cukup canggih.
Pada dua tahun terakhir, Sail Indonesia digelar di Bunaken, Sulawesi Utara, dan Banda, Maluku. ”Tahun depan rencananya akan digelar di Morotai, Maluku Utara,” ujarnya.
Bupati Wakatobi Hugua berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran warga untuk terus melestarikan lingkungannya agar bisa digunakan untuk mencapai kesejahteraan.
”Kekuatan Indonesia dari sektor pariwisata adalah kekayaan ekowisata. Kalau kita mau maju, harus didorong dari kekuatan itu, yang tidak dimiliki negara lain,” katanya.
Dikatakan. Wakatobi membutuhkan bantuan pemerintah pusat guna membangun infrastruktur, terutama bandara dan jalan.
”Saat ini, Bandara Matahora, Wakatobi, hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil. Kondisi