Dana jamkesda habis

Maskin Kendal "Dilarang" Sakit

Kompas.com - 17/07/2011, 13:00 WIB

KENDAL KOMPAS.com - Masyarakat miskin (maskin) yang tidak masuk dalam jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas)  di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mulai Juli 2011 terancam tidak bisa mendapat layanan kesehatan. Pasalnya, dana untuk jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) bagi masyarakat miskin, sebesar Rp 6,9 miliar habis pada akhir Juni.

Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti, Minggu (17/7/2011), mengaku mendapat kesulitan membiayai warga miskin yang sakit dan tidak masuk dalam Jamkesmas. Pasalnya dana Jamkesda sudah habis akhir Juni lalu lalu.

Cepat habisnya dana Jamkesda ini, menurut Widya, disebabkan banyak maskin yang tidak memperoleh Jamkesmas hingga terpaksa mencari surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau desa, yang juga bisa digunakan untuk mendapatkan dana dari APBD itu.

Agar tidak terjadi kesalahan yang sama di tahun mendatang, Widya mengatakan, pihaknya akan mengajak instansi terkait seperti Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berancana (BPPKB), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil), Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Serikat Rakyat Miskin untuk mendata bersama agar tepat sasaran.

Widya menambahkan, dana Jamkesda tidak saja habis namun juga mengalami pembengkakan hingga Rp. 3,5 miliar. Pihaknya mengakui, bahwa dana yang dicairkan tahun ini, sebagian untuk mengembalikan tunggakan tahun sebelumnya.

Widya mengaku sudah berupaya maksimal, anggaran Jamkesda yang akan dibahas di APBD perubahan akan digunakan untuk mengembalikan pembengkakan dana tahun ini.

Dihubungi secara terpisah, Sekretaris Komisi D DPRD Kendal, Budiyono menyayangkan jika Bupati terkesan lepas tangan soal habisnya anggaran Jamkesda sebelum waktunya.

" Ini adalah kepentingan masyarakat, sangay disayangkan jika bupati pasrah dengan habisnya dana Jamkesda. Seharusnya bupati bisa membuat nota untuk menganbil dana mendahului anggaran," ujar Budiyono.

Diakui Budiyono ada kesalahan sistem dalam pendataan masyarakat miskin penerima Jamkesmas dan Jamkesda. Banyak warga yang tergolong tidak miskin justru mendapatkan Jamkesmas.

Budiyono berharap kembali dilakukan pendataan yang valid, sehingga penggunakan Jamkesmas dan Jamkesda bisa tepat sasaran. Untuk peserta Jamkesmas yang berjumlah 246.666 orang tdak ada masalah karena langsung dari pusat. "Tetapi  untuk 91.479 warga miskin yang tidak masuk dalam Jamkesmas, hal ini akan menjadi masalah," kata Budi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau