Bandar Narkoba Itu Baru Tiga Hari Pindah

Kompas.com - 17/07/2011, 19:25 WIB

KOMPAS.com - Tinggal di sebuah komplek rumah mewah di Sentul City, Bogor, membuat Soeradi Halim alias Beong (49), seorang bandar narkoba kelas kakap, lebih leluasa melakukan kegiatan transaksi narkobanya. Pasalnya, komplek rumah itu cenderung sepi dan dihuni oleh warga yang sibuk sehari-harinya.

Kardi (32), tetangga Beong, mengungkapkan bahwa kawasan itu memang terbilang sepi. Ia pun mengaku sama sekali tidak kenal dengan Beong yang tinggal dua rumah di sebelahnya.

"Dia orang baru. Baru sekitar tiga hari tinggal di sini. Di daerah ini memang sepi, saya juga jarang lihat dia," ucap Kardi, Minggu (17/7/2011), saat dijumpai di Jalan Bukit Mutiara Golf Hijau Nomor 22, Sentul City, Bogor.

Kardi menuturkan bahwa dirinya hanya sekali melihat Beong pada sore hari. "Saat itu saya lagi bawa anjing jalan-jalan. Dia baru pulang pakai Accord, begitu sampai dia langsung masuk rumah. Enggak ada sapa-sapaan. Tertutup orangnya," ucap Kardi.

Di dalam pengakuannya saat melakukan rekonstruksi ulang di lokasi, Beong menceritakan bahwa dirinya mengontrak selama tiga hari di Sentul City, sampai akhirnya dibekuk pada Jumat (15/7/2011) sore. "Belum lapor (RT). Baru kontrak tiga hari," tuturnya.

Lebih lanjut, Beong mengungkapkan bahwa dalam melakukan transaksinya, narkoba jenis ekstasi dimasukkan ke dalam mesin mixer kue lalu dibungkus plastik dan ditutup dengan sebuah kotak kayu. Hal ini ditujukan untuk mengelabui pihak Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok.

"Barang itu dari Belanda transit ke Batam menggunakan ekspedisi dan dikirim lagi ke Tanjung Priok akhirnya sampai ke sini (Sentul City)," aku Beong.

Sebelumnya, pada Jumat (17/7/2011) sore pukul 18.00, Beong diciduk BNN di rumahnya Jalan Bukit Mutiara Golf Hijau Nomor 22, Sentul City, Bogor. Dari lokasi itu, polisi mengamankan 250.000 butir ekstasi senilai Rp 7,5 miliar. Ekstasi itu berasal dari Belanda yang menggunakan jalur laut sampai di Indonesia.

Usai menangkap Beong, polisi kemudian melakukan pengembangan dan menangkap tiga orang sopir pengantar yakni U, M, dan S serta dua orang sub distributor yakni W dan C.

Direktur Narkotika Alami, Benny Mamoto, mengatakan bahwa saat ini para pengedar narkoba sengaja menyasar komplek perumahan yang sepi dan dihuni oleh para warga dengan tingkat kesibukan yang tinggi. "Saat itulah mereka leluasa bertransaksi," ucap Benny.

Oleh karena itu, Benny menyarankan kepada setiap pemilik rumah untuk mengetahui identitas jelas pengontrak rumah lalu memperkenalkannya ke Ketua RT dan Ketua RW setempat. "Dengan menitipkan ke Ketua RT atau RW, kegiatan mereka bisa lebih terpantau," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau