Gunung Lokon Kembali Meletus

Kompas.com - 18/07/2011, 01:49 WIB

Manado, Kompas - Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, kembali meletus, Minggu (17/7) pukul 10.35, setelah sempat dua hari menunjukkan gejala mereda. Gunung tersebut kali ini memuntahkan debu dan pasir vulkanik serta asap hitam setinggi 3,5 kilometer ke udara.

Erupsi Gunung Lokon berulang pada pukul 11.11 dengan intensitas lebih kecil. Meski demikian, dua letusan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Selain itu, tidak ada warga yang cedera. Kota Tomohon tampak bersih dari hujan debu. Aktivitas masyarakat berjalan normal.

Petugas pengamat Pos Gunung Api Lokon dan Mahawu, Freddy Korompis, mengatakan, dua erupsi Gunung Lokon dari kawah Tompaluan mengeluarkan debu dan pasir yang langsung terbawa angin ke arah utara, yakni kawasan Kota Manado.

Langit Kota Manado sepanjang siang hari tampak mendung tertutup debu. Atap rumah-rumah di Manado tampak terselubung debu tipis. Jarak Gunung Lokon dari Kota Manado sekitar 30 kilometer.

Menurut Freddy, erupsi Gunung Lokon kemarin pagi lebih besar dari letusan Kamis malam lalu.

Heri Sikado, General Manager Bandara Sam Ratulangi PT Angkasa Pura I, meminta pesawat yang terbang ke Manado menjauh dari Gunung Lokon. ”Kami sudah menyampaikan ini ke pihak penerbangan,” katanya. Sejauh ini, penerbangan dari dan ke Manado belum terganggu.

Korompis mengatakan, aktivitas karakter Gunung Lokon sulit diprediksi. Setelah erupsi Kamis lalu, sebenarnya aktivitas Gunung Lokon sudah mereda. Akibat letusan kemarin pagi, sejumlah warga yang telah pulang ke rumah di Kelurahan Kinilow dan Kinilow I kembali memadati lokasi pengungsian.

Pemerintah Kota Tomohon sejak pukul 12.00 merelokasi pengungsi dari empat sekolah ke sejumlah kantor dan balai desa. Jumlah pengungsi yang tercatat kemarin sebanyak 4.884 orang. Mereka tersebar di 23 titik.

Pelaksana Tugas Wali Kota Jemmy Eman mengatakan, proses relokasi berjalan lancar meski pihaknya sempat kerepotan mengatur pengungsi.

Di beberapa lokasi pengungsian, warga mengeluhkan ketersediaan air bersih. ”Untuk minum saja susah, apalagi mandi,” kata Meita (38), pengungsi.

Segmen patahan

Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Barat (Sumbar) Ade Edward mengatakan, ada dua segmen patahan yang perlu diawasi meskipun tidak terkait langsung dengan aktivitas Gunung Lokon. Segmen tersebut adalah Sumpur-Barumun di Kabupaten Pasaman dan Suliti di Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

Segmen Sumpur-Barumun terkait dengan aktivitas Gunung Marapi, Gunung Tandikek, dan Gunung Talamau di Sumbar. Adapun segmen Suliti terkait dengan aktivitas Gunung Talang di Sumbar dan Gunung Kerinci di Jambi. ”Aktivitas Kerinci sejak sepekan lalu meningkat jadi Waspada. Sabtu kemarin, ada semburan,” katanya. (ZAL/INK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau