Pontianak, Kompas -
Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, akhir pekan lalu di Pontianak, mengatakan menolak bantuan asing dalam sebuah pertemuan negara-negara ASEAN pada 2010 lalu.
”Sampai sekarang saya tetap menolaknya. Memang betul uang dari mereka, tetapi teknologi, peralatan, dan sumber daya manusia harus sewa dari mereka juga. Itu berarti uangnya juga kembali kepada mereka lagi. Tetapi, seolah-olah di dunia internasional tercitrakan bahwa orang-orang asing tersebut berjasa luar biasa membantu kita,” katanya.
Menurut Cornelis, negara-negara pemberi bantuan juga cenderung arogan. ”Mereka marah-marah ke kita kenapa kirim asap melulu. Padahal, investor yang kebunnya terbakar juga dari mereka juga. Kita masih mampu menangani sendiri,” katanya.
Di Kalimantan Barat, kebakaran selalu berulang setiap kali musim kemarau. Ada dua karakter kebakaran, yaitu di lahan gambut dan ladang. Cornelis menyebutkan, di lahan gambut, para petani memang sengaja membakar supaya lahan bisa ditanami. ”Tanahnya sangat asam. Jadi, abu dari pembakaran dipakai untuk mengurangi keasaman. Sementara itu di pedalaman, ada warga kami yang memang sengaja membakar karena tradisi,” paparnya.
Untuk itu, kata Cornelis, harus ada keputusan politik dari pemerintah pusat hingga ke tingkat kampung untuk menghentikan pembakaran lahan. Namun, pemerintah juga harus menyediakan teknologi pertanian untuk mengolah lahan tanpa pembakaran dulu.
Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang, secara terpisah, mengatakan, faktor lain yang menggerakkan minat untuk bekerja sama dengan asing yakni tidak semua permintaan bantuan kepada pemerintah pusat bisa dipenuhi. Selama memberikan manfaat, kerja sama dengan pihak asing hendaknya dilanjutkan.
”Saya minta pemda dibiarkan berkreasi untuk bekerja sama dengan pihak asing. Jujur saja, bantuan tidak semuanya bermanfaat,” ujarnya.
Pekan lalu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengimbau pemda untuk meninjau ulang kerja sama penanggulangan kebakaran lahan dengan pihak asing.
Menurut Agung, manfaat kerja sama itu, setelah dievaluasi, ternyata tidak sebesar yang diharapkan.