Kebakaran lahan

Kalbar Tolak Bantuan Asing, Kalteng Siap

Kompas.com - 18/07/2011, 03:04 WIB

Pontianak, Kompas - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menolak segala bentuk bantuan dari negara-negara asing untuk menanggulangi kebakaran lahan dan hutan. Sebaliknya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan siap menerima bantuan asing karena bantuan dari pemerintah pusat sendiri kerap seret.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, akhir pekan lalu di Pontianak, mengatakan menolak bantuan asing dalam sebuah pertemuan negara-negara ASEAN pada 2010 lalu.

”Sampai sekarang saya tetap menolaknya. Memang betul uang dari mereka, tetapi teknologi, peralatan, dan sumber daya manusia harus sewa dari mereka juga. Itu berarti uangnya juga kembali kepada mereka lagi. Tetapi, seolah-olah di dunia internasional tercitrakan bahwa orang-orang asing tersebut berjasa luar biasa membantu kita,” katanya.

Menurut Cornelis, negara-negara pemberi bantuan juga cenderung arogan. ”Mereka marah-marah ke kita kenapa kirim asap melulu. Padahal, investor yang kebunnya terbakar juga dari mereka juga. Kita masih mampu menangani sendiri,” katanya.

Di Kalimantan Barat, kebakaran selalu berulang setiap kali musim kemarau. Ada dua karakter kebakaran, yaitu di lahan gambut dan ladang. Cornelis menyebutkan, di lahan gambut, para petani memang sengaja membakar supaya lahan bisa ditanami. ”Tanahnya sangat asam. Jadi, abu dari pembakaran dipakai untuk mengurangi keasaman. Sementara itu di pedalaman, ada warga kami yang memang sengaja membakar karena tradisi,” paparnya.

Untuk itu, kata Cornelis, harus ada keputusan politik dari pemerintah pusat hingga ke tingkat kampung untuk menghentikan pembakaran lahan. Namun, pemerintah juga harus menyediakan teknologi pertanian untuk mengolah lahan tanpa pembakaran dulu.

Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang, secara terpisah, mengatakan, faktor lain yang menggerakkan minat untuk bekerja sama dengan asing yakni tidak semua permintaan bantuan kepada pemerintah pusat bisa dipenuhi. Selama memberikan manfaat, kerja sama dengan pihak asing hendaknya dilanjutkan.

”Saya minta pemda dibiarkan berkreasi untuk bekerja sama dengan pihak asing. Jujur saja, bantuan tidak semuanya bermanfaat,” ujarnya.

Pekan lalu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengimbau pemda untuk meninjau ulang kerja sama penanggulangan kebakaran lahan dengan pihak asing.

Menurut Agung, manfaat kerja sama itu, setelah dievaluasi, ternyata tidak sebesar yang diharapkan. (BAY/AHA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau