WINDORO ADI
Suatu sore, Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi, Cici Tegal (Sri Wahyuningsih), Leroy Osmani, Olivia Zalianty, dan rombongan menggowes sepeda dari taman berpatung sepeda Jalan Melawai, Blok M, Jakarta Selatan, lalu melintasi jalur sepeda sepanjang 1,4 kilometer ke Taman Ayodya.
Percakapan kecil pun berlanjut di tepian Ayodya. Beberapa teman pencinta sepeda lain pun berdatangan.
Rombongan kemudian meluncur lagi ke Jalan Achmad Dahlan dan masuk ke Kafe Safari Nomor 88. Nah, inilah salah satu destinasi para penggila sepeda. Di kafe ini dipajang 24 macam sepeda.
Ada sepeda tua bermerek Raleigh dan Gazelle. Ada juga sepeda yang lingkaran roda depannya jauh lebih besar ketimbang roda belakang. Ada juga sepeda terkecil di dunia yang masih layak dikendarai dan yang cuma memiliki satu roda. Warnanya merah. ”Nah, yang ini baru dapat dari Hongaria,” kata Syahrul sambil mengangkat sepeda beroda satu.
Sepeda lantas diambil Leroy. Ia mencoba mengendarai sepeda itu dan jatuh. Tentu saja karena ia tidak memiliki keterampilan seperti pemain sirkus.
Kafe Safari ini sudah dibuka sepuluh tahun lalu. Akan tetapi, Jimmy baru memajang sepeda-sepeda itu di kafenya empat tahun belakangan. Padahal, pria yang pernah bermukim di
Sekarang, setiap akhir pekan, puluhan pelanggan kafe datang dengan sepeda, tidak hanya makan, minum, dan bercakap sepanjang malam di kafe, tetapi juga menginap di ruang bawah, menunggu subuh datang.
Setelah olahraga pagi dan sarapan, mereka kemudian dijemput rombongan penggemar sepeda lainnya, menempuh udara dan matahari pagi.
Mengubah gaya hidup
Sejak menjadi pangkalan para penggemar sepeda, Kafe Safari tidak menyajikan minuman beralkohol. Kafe ini juga tidak hanya dikunjungi keluarga muda, tetapi juga remaja. ”Kafe ini jadi sering dijadikan tempat merayakan ulang tahun. Berfoto, bahkan meminjam sepeda-sepeda di sini. Ya, silakan saja,” kata Jimmy.
Sepeda tidak cuma mengubah Kafe Safari menjadi kafe penyaji minuman tak beralkohol, tetapi juga mengubah para penggemar motor gede (moge), seperti Leroy dan Icang. ”Saya main sepeda sejak dua tahun lalu. Sebelumnya saya penggemar berat moge. Saya punya tiga moge,” kata Icang.
Icang pun langsung teringat pengalaman masa lalunya.
Suatu saat, Icang dan Leroy melihat banyak orang bersepeda yang mudah saling menyapa dan tersenyum, bahkan berkenalan. Mereka pun menemukan jawaban dan beralih menjadi penggemar sepeda.
”Satu moge saya jual, saya belikan sepeda gunung istimewa. Tak berapa lama, saya mendapat sapaan dan senyuman itu,” kata Icang. Meski masih memiliki dua moge, kini ia memiliki 20 sepeda gunung. Icang berniat dalam waktu dekat kedua moge-nya akan ia jual. ”Ya habis buat apa punya moge kalau cuma dipanasin melulu di rumah?” katanya.
Leroy pun tergila-gila dengan sepeda gunungnya. Setiap hari Senin, ia bersepeda 20-25 kali putaran di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pukul 06.30- 08.00. Selasa, ia bersepeda di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, jam 06.30-11.00. Rabu dan Kamis, ia bersepeda di Bojong Koneng, Sentul, pukul 06.30-11.00. Sabtu, ia bersepeda dengan 60 anggota komunitasnya, Apache, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Minggu, ia dan ratusan anggota Komite Sepeda Indonesia (KSI) lainnya, menjelajah Jakarta. ”Hari Jumat saja saya libur,” tutur Leroy.
Kegilaan Cici pada sepeda juga tidak jauh beda. Sepekan, Cici bersepeda empat kali. ”Soalnya hari Senin dan hari Kamis adalah hari keramat buatku,” celoteh Cici.
Saat berlatih memakai sepatu sepeda ber-cleat (penjempit pedal), ia pernah jatuh. Ia juga pernah sekali diserempet truk, sekali diserempet mobil, dan dua kali ditabrak sepeda motor. Tapi, Cici tidak kapok. Sebab, baginya, bersepeda cara paling jitu mengurangi berat badan tanpa harus mengurangi makan.
Menurut dia, sepeda yang paling efektif menurunkan berat badan adalah sepeda fixie dan sepeda balap. ”Tadi lihat kan badan Olivia? Dia langsing karena bersepeda fixie,” ujar Cici.
Sebagai penggemar sepeda, mereka berharap Jakarta pun semakin banyak memiliki jalur sepeda. Saat ke Singapura, Cici iri melihat jalur sepeda yang panjang, aman, dan menyenangkan saat menyusuri pantai sampai tiba di Bandar Udara Changi.
Leroy pun menambahkan, di sana, pengendara kendaraan bermotor mengalah dengan pengendara sepeda.
Menurut Syahrul, kondisi seperti itu bukan hanya di Singapura, tapi juga di banyak negara. Itu sebabnya, ia bersama KSI gigih memperjuangkan tempat parkir sepeda di sekolah, di gedung perkantoran, di mal, dan di pusat-pusat keramaian di Jaksel.
Ia juga bercita-cita bisa menjadikan sepeda sebagai alat transportasi yang mengatasi kemacetan di Jakarta.
”Gubernur sudah setuju. Nanti, setiap pengelola gedung wajib menyediakan tempat parkir sepeda. Jalur sepeda pun akan terus ditambah. Saya pun akan terus menyosialisasi kebiasaan bersepeda ke tempat kerja atau sekolah. ”Bike to work, bike to school,” papar Syahrul.