Pajak Rokok Tak Pengaruhi Perokok

Kompas.com - 18/07/2011, 16:34 WIB

KOMPAS.com – Menghentikan kebiasaan merokok memang bukan hal yang mudah. Sekalipun penetapan pajak rokok terus dinaikan, tampaknya hal itu tidak banyak berpengaruh bagi mereka yang sudah kecanduan.

Hasil penelitian di Kanada baru-baru ini menemukan bahwa, orang kaya dan dewasa berusia 25-44 tahun tidak terhalang oleh kebijakan pemerintah terhadap pemberlakuan pajak rokok. Mereka terus menghisap rokok sekalipun harga sudah dinaikkan.

Penelitian ini sebenarnya difokuskan pada dampak jangka panjang untuk para perokok berat dari kalangan menengah ke bawah. Ditemukan bahwa pajak yang tinggi mendorong mereka berpenghasilan rendah dan menengah untuk berhenti. Namun, kenaikan harga tidak serta merta berpengaruh dalam membujuk perokok kaya untuk berhenti, menurut para peneliti dari Concordia University di Montreal.

Di Amerika Serikat, pajak rokok dikenakan pada negara setiap bagian dan federal, di mana New York memiliki pajak rokok tertinggi dari semua negara bagian AS, yakni rata-rata 4,35 dollar AS per bungkus. Sementara itu, di Missouri harga rokok tercatat paling rendah yakni sekitar  0.17 dollar AS per bungkus.

"Secara keseluruhan, penerapan harga pajak rokok hanya berpengaruh kepada mereka yang berasal dari kalangan kelompok sosial rendah. Sedangkan mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi tidak berpengaruh," kata peneliti Mesbah Sharaf.

"Jika ada peningkatan 10 persen dalam pajak, maka partisipasi merokok akan turun sekitar 2,3 persen," tambah Sharaf.

Setelah memeriksa data dari Survei Kesehatan Penduduk Nasional yang diselenggarakan pada tahun 1998-1999 dan 2008- 2009, para peneliti menganalisis tiga usia kelompok perokok harian (12-24 tahun, 25-44 tahun, dan 45-65 tahun).

Temuan menunjukkan bahwa, dari tiga kelompok usia tersebut, mereka yang berusia 25-44 tahun masih terus merokok bahkan ketika dihadapkan dengan pajak rokok yang tinggi.

Studi ini juga menemukan bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan mencapai sarjana memiliki kecenderungan untuk tidak merokok dibandingkan mereka yang tidak menyelesaikan sekolah tinggi.

"Persentase terendah perokok dapat ditemukan di antara wanita yang sudah menikah, lebih tua, dengan penghasilan tinggi dan pendidikan yang lebih tinggi," kata peneliti Ahad Azagba.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau