Sengketa

Jangan Ada Pasukan Militer di Preah Vihear!

Kompas.com - 18/07/2011, 18:40 WIB

KOMPAS.com — Perseteruan antara Thailand dan Kamboja terkait situs kuil kuno Preah Vihear bakal memanas andai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tak turun tangan. Untungnya, hal itu tidak terjadi.

Sebagaimana warta AP dan AFP pada Senin (18/7/2011), Mahkamah Internasional (ICJ) PBB sudah memerintahkan kedua negara untuk menarik pasukan mereka dari kawasan perbatasan yang diperebutkan kedua negara.  "Kedua pihak harus segera menarik semua personel militer yang saat ini berada di zona demiliterisasi sementara dan menahan diri agar tidak menempatkan militer di zona itu," demikian bunyi putusan pengadilan yang dibacakan oleh hakim ketua Hisashi Owada di Den Haag.

Mahkamah PBB juga menyebutkan, tim peninjau PBB akan diterjunkan ke lapangan untuk mengawasi gencatan senjata.

Kerja sama

Sebelumnya, Kamboja meminta Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan setelah pecah pertempuran di sekitar kuil Preah Vihear awal tahun ini. Kuil tersebut milik Kamboja, tetapi sebagian besar wilayah di sekililingnya milik Thailand.

Kamboja mengajukan kasus ini dengan meminta klarifikasi putusan Mahkamah Internasional pada 1962 yang memutuskan bahwa kuil tersebut menjadi milik Kamboja, tetapi membiarkan berbagai masalah lainnya samar-samar.

Sebaliknya, Thailand menghendaki kasus tersebut dibatalkan. Namun, Negeri Gajah Putih telah menyatakan akan menghormati putusan pengadilan. "Kami puas dalam arti bahwa perintah penarikan pasukan berlaku bagi Kamboja dan Thailand," kata Menteri Luar Negeri Thailand, Kasit Piromya.

Putusan ICJ ini merupakan bagian dari kasus yang berlarut-larut dan pengadilan tertinggi PBB berusaha menjernihkan putusan-putusan sebelumnya. Ketegangan antara Kamboja dan Thailand mulai meningkat sejak UNESCO menetapkan kuil Preah Vihear sebagai Warisan Dunia pada 2008.

Bentrokan antara pasukan kedua negara di sekitar kuil terjadi pada Februari tahun ini dan menewaskan 10 orang. Pada April, 18 orang lagi tewas dalam pertempuran di perbatasan, di sekitar gugusan kuil lain di wilayah barat.

Mahkamah Internasional meminta Kamboja dan Thailand untuk terus bekerja bersama Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk mencapai kesepakatan guna memungkinkan pemantau ASEAN memiliki akses ke zona demiliterisasi di sekitar kuil.

Mahkamah juga memerintahkan kepada Thailand untuk tidak menghalang-halangi akses bebas Kamboja ke kompleks kuil Preah Vihear atau menghalang-halangi Kamboja membawa pasokan makanan kepada personel nonmiliter di sana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau