Hama wereng

Padi Seluas 1.161 Hektar diserang Wereng

Kompas.com - 18/07/2011, 20:31 WIB

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Kendati bukan daerah endemis hama wereng, tanaman padi seluas 1.161 hektar yang tersebar di 18 kecamatan, di wilayah kabupaten Mojokerto, musim tanam kemarau pertama diserang wereng.

"Di Jawa Timur, daerah Mojokerto masuk kategori potensial hama wereng, namun demikian bukan berarti tanaman padi bebas dari serangan wereng," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Agus M Anas, Senin (18/7/2011), di Mojokerto.

Ia mengatakan, agar daerah Mojokerto tidak sampai menjadi daerah endemis hama wereng, pihak petani mau tak mau harus mengubah pola tanam dari padi ke palawija dalam musim tanam kemarau kedua nanti.

Pasalnya, dalam musim tanam kemarau pertama hingga pertengahan bulan Juli ini seluas 1.161 hektar tanaman padi rusak diserang hama wereng.

Dari luasan areal tanaman padi tersebut, tingkat kerusakan ringan 534 hektar, sedang 290 hektar, berat 168 hektar dan puso 169 hektar.

"Kami sudah ints ruksikan kepada petugas penyuluh pertanian di lapangan dan mantri pertanian agar mendorong petani untuk mengubah pola tanam dari padi ke palawija dengan maksud memutus matarantai berkembang biaknya hama wereng," katanya.

Dikatakan, varietas padi yang selama ini ditanam oleh petani sudah tidak lagi terbebas dari serangan hama wereng, karena itu sudah saatnya mengganti dengan varietas baru yang lebih tahan serangan hama wereng.

"Sekarang ini memang sedang dikembangkan uji coba varietas baru tanaman padi Inpari 13 yang lebih tahan hama wereng," katanya.

Ia mengatakan, sebaikanya petani mengambil risiko mempusokan tanaman padi miliknya saat usia tanaman padi berusia 30 hari sudah diserang hama wereng dan mengganti dengan tanaman lain, seperti jagung maupun kedelai.

"Satu pasang wereng dalam kurun waktu 20 hari bisa berkembang biak menjadi 1000 wereng, kalau tanaman padi berusia 30 hari sudah di serang wereng sebaiknya dipusokan," katanya.

Sebaliknya, demikian kata Agus, jika usia tanaman padi sudah lebih 30 hari baru ada tanda-tanda diserang hama wereng, masih bisa diatasi dengan insektisida.

Agus mengatakan, sampai sekarang ini masa panen padi musim tanam kemarau pertama masih berlangsung dan bakal berakhir awal Agustus mendatang. Dengan demikian, petani yang bersiap hendak tanam dalam musim kemarau kedua nanti, jangan memaksakan diri menanam padi.

"Walaupun irigasinya baik dan masih cukup air, kami berharap agar mereka tidak menanam padi lagi dan menggantinya dengan tanaman palawija," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau