Lahir juara baru dalam 16 tahun

"Matinya" Sepak Bola Brasil

Kompas.com - 19/07/2011, 04:06 WIB

LA PLATA, SENIN - Tidak ada lagi tim favorit di Copa Amerika. Setelah Argentina, juara bertahan Brasil juga tumbang di perempat final dengan cara yang sama, yakni kalah adu penalti 0-2 (0-0, 0-0) dari Paraguay di La Plata, Minggu (17/7). Dipastikan, bakal ada juara baru dalam rentang 16 tahun ini.

Tumbangnya kekuatan raksasa sepak bola, Brasil, seolah menegaskan ulang judul artikel utama majalah FourFourTwo edisi Juli 2011 yang secara provokatif mencanangkan ”Matinya Brasil”. ”Untuk pertama kali sepanjang ingatan, Brasil tidak punya pemain menyerang kelas dunia. Tak satu pun,” tulis FourFourTwo.

”Alih-alih semua pemain terbaik mereka adalah bek, ya bek! Sepak bola Brasil seperti yang kita tahu selama ini secara resmi telah mati.” Sepanjang perhelatan Copa kali ini, dari empat laga, Brasil hanya menang sekali, yakni menang 4-2 atas Ekuador.

Kemenangan itu seperti akan menandai bangkitnya tim asuhan pelatih Mano Menezes yang dua laga sebelumnya ditahan Venezuela 0-0 dan Paraguay 2-2. Akan tetapi, momentum itu ternyata hanyalah awal kematian mereka.

Pada pertemuan keduanya lawan Paraguay di perempat final, Brasil seri lagi 0-0 hingga babak perpanjangan waktu dan harus diakhiri dengan adu penalti.

Sangat menyedihkan, tak satu pun dari empat penendang Brasil berhasil dalam eksekusinya.

Bola tendangan Thiago Silva dan Elano diblok kiper Paraguay, Justo Villar, sementara Andre Santos dan Fred juga gagal.

Penendang pertama Paraguay, Edgar Barreto, juga gagal. Marcelo Estigarribia dan Cristian Riveros, dua penendang berikutnya, sukses dan memastikan tiket Paraguay ke semifinal. ”Adu penalti itu lotre. Pemain kami melakukannya lebih baik, mereka (Brasil) gagal,” kata Villar.

”Brasil seharusnya sudah menang, mungkin dalam 90 menit,” kata Gerardo Martino, pelatih Paraguay yang asal Argentina itu. ”Kami mampu menggagalkan dua bola peluang emas dan kiper kami menggagalkan peluang-peluang lainnya.”

Brasil mendominasi penguasaan bola dan lebih unggul dalam permainan daripada Paraguay, yang lebih banyak bertahan dan mencoba serangan-serangan balik. Tak satu pun serangan itu menjebol gawang hingga adu penalti. ”Kami kalah dari tim yang sebelumnya tidak pernah memenangkan laga dan kini lolos ke semifinal,” kata Menezes. ”Itulah sepak bola dan kami harus belajar hidup dalam situasi itu untuk menghindari kompromi dalam kerja yang telah kami lakukan.”

Di semifinal, Rabu (20/7) atau Kamis pagi WIB, Paraguay bakal menghadapi Venezuela yang secara mengejutkan melibas Cile 2-1 (1-0) di San Juan. Satu semifinal lain mempertemukan semifinalis Piala Dunia 2010 Uruguay versus Peru, Selasa waktu setempat atau Rabu pagi WIB.

Dipastikan bakal lahir juara baru dalam 16 tahun terakhir. Sejak Uruguay juara 1995, trofi Copa Amerika direbut Brasil empat kali dan Kolombia sekali. Juara baru itu bakal tampil di Piala Konfederasi 2013 di Brasil.

(AP/AFP/REUTERS/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau