Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Tidak "Bubble"

Kompas.com - 19/07/2011, 06:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi, Faisal Basri, meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi bubble. Namun sayang, kondisi ini lebih banyak dinikmati investor asing.

"Perekonomian Indonesia saat ini tumbuh secara alami dan tidak ada indikasi bubble. Kalau bubble itu perkembangan ekonominya jauh melampaui penguatan fondasi. Kalau di Indonesia tidak seperti itu," ujar dia di sela-sela diskusi "Market Outlook Kuartal Tiga 2011" di Jakarta, Senin (18/7/2011) malam.

Ia mengatakan, investor yang ingin menempatkan dananya pada suatu negara juga akan berhati-hati. Mereka akan melihat sejauh mana pertumbuhan negara yang dituju. "Investor juga tidak bodoh untuk menempatkan dananya. Kondisi yang terjadi saat ini, Indonesia mempunyai pertumbuhan yang positif," katanya.

Ditambahkan, masuknya dana asing saat ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang baik. Salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan pasar modal. "Jadi, kalau saya punya uang, lebih baik saya menempatkan dana semuanya pada saham. Pada negara yang positif pertumbuhannya, ditinggal tidur saja saham akan naik," kata dia.

Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. "Masalahnya adalah penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang asing karena investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble," ujar dia.

Ia menambahkan, besaran pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang di atas 3.000 dollar AS juga merefleksikan kemajuan pembangunan suatu negara. Dalam empat tahun ke depan, lanjut dia, ekonomi Indonesia masih akan terus tumbuh. Diprediksi pula bahwa total dana asing yang masuk (capital inflow) hingga akhir tahun 2011 dapat mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat menambah devisa negara.

"Empat tahun ke depan ekonomi Indonesia akan terus ekspansi. Total capital inflow bisa mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat membuat devisa kita bertambah," kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.

Ia menambahkan, kuatnya cadangan devisa dalam negeri akan menopang stabilitas kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar. "Derasnya capital inflow akan membuat cadangan devisa kita kuat. Dengan demikian, hal itu akan membuat penguatan rupiah terhadap dollar AS," ucapnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau