Xinjiang

Pemerintah China Anggap Perusuh Teroris

Kompas.com - 20/07/2011, 02:56 WIB

BEIJING, SELASA - Bentrokan di pos polisi yang menyebabkan empat orang tewas di Xinjiang merupakan serangan teroris yang terorganisasi.

Demikian pernyataan Pemerintah China di Beijing, Selasa (18/7).

Polisi di Xinjiang menembaki beberapa perusuh yang merangsek ke pos polisi di kota kecil Hotan. Kerusuhan itu merupakan yang terburuk di Xinjiang yang didiami orang Uighur dalam satu tahun terakhir ini.

Hou Hanmin, Kepala Informasi Provinsi Xinjiang, mengatakan, ada serangan teroris. ”Perusuh membawa senjata dan granat. Pertama-tama, mereka masuk ke kantor industri dan perdagangan daerah setempat, lalu pergi ke biro perpajakan yang dekat dengan pos polisi. Ada dua orang terluka di sana,” kata Hou. Penyerang membakar pos polisi sebelum membunuh tawanan ketika bentrok dengan polisi bersenjata, kata Hou lagi.

Penyaringan informasi

Menurut kelompok Uighur di pengasingan, ada 20 orang Uighur yang terbunuh dalam kerusuhan tersebut. Kelompok itu juga mengatakan, pemerintah sedang membangkitkan amarah warga Uighur dan menuduh ada pemblokiran informasi tentang kerusuhan berdarah tersebut.

Badan sensor China memblokir mesin pencari pada Sina Weibo, mikroblog seperti Twitter. Selain itu, jika mencari kata ”kerusuhan Xinjiang” dan ”Hotan”, akan muncul peringatan bahwa menurut hukum, dan kebijakan yang berlaku, hasil pencarian tidak dapat ditampilkan.

Kongres Uighur, yang berbasis di Jerman, mengutip sumber di Xinjiang, mengatakan, pasukan keamanan memukuli 14 orang hingga tewas dan menembak 6 orang lainnya selama kerusuhan tersebut.

”Otoritas China seharusnya segera menghentikan tekanan sistematis agar menghindari eskalasi suhu politik,” ujar juru bicara kelompok, Dilxat Raxit.

Ia mengatakan, kerusuhan terjadi karena ada sekelompok orang Uighur yang berupaya mendesak polisi agar membebaskan kerabat mereka yang ditahan.

Situasi di Hotan, salah satu kota terkenal sebagai Jalur Sutra di masa lalu, tetap tegang. Polisi masih berjaga-jaga dan banyak selebaran anti-China yang diedarkan.

Xinjiang menjadi kawasan kekerasan dalam beberapa tahun belakangan ini. Suku minoritas Uighur semakin menolak dominasi suku mayoritas Han di kawasan itu. Kerusuhan terhebat sempat terjadi di ibu kota Urumqi pada Juli 2009.

(AP/AFP/Reuters/joe)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau