Pascaerupsi

Rekonstruksi Merapi Butuh 1,35 Triliun

Kompas.com - 20/07/2011, 03:59 WIB

Jakarta, Kompas - Selama tiga tahun, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Gunung Merapi memerlukan dana sebesar Rp 1,35 triliun. Khusus pada tahun 2011, keperluan dana mencapai Rp 681 miliar.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, Selasa (19/7) di Istana Wakil Presiden, mengatakan, kebutuhan Rp 1,35 triliun merupakan total kebutuhan pada 2011, 2012, dan 2013. Jumlah kebutuhan Rp 681 miliar pada 2011 dipenuhi oleh BNPB sebanyak Rp 622 miliar dan sisanya oleh Kementerian Pekerjaan Umum lewat pengerjaan proyek perumahan.

Syamsul menyampaikan hal itu seusai mengikuti rapat rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi Gunung Merapi di Istana Wapres. Rapat juga diikuti Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Agama Suryadharma Ali, serta Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.

Menurut Syamsul, rehabilitasi dan rekonstruksi meliputi lima sektor, yaitu sektor perumahan, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial (pendidikan kesehatan), dan lintas sektor (pembangunan gedung-gedung perkantoran serta pemerintahan). ”Dalam rapat, disampaikan oleh Bapak Wapres agar kebutuhan pendanaan tahun 2012 benar-benar disepakati dan dimasukkan dalam DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) masing-masing kementerian,” ujarnya.

Ia menyampaikan, rehabilitasi dan rekonstruksi yang menyangkut ekonomi kerakyatan serta infrastruktur sudah dilaksanakan. ”Pembangunan delapan jembatan sudah dimulai. Berikutnya, air bersih juga sudah mulai dikerjakan,” kata Syamsul.

Sementara itu, pelatihan mitigasi bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api di Jawa Barat harus terus digiatkan. Tujuannya membuat masyarakat lebih paham dan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitar gunung.

”Jangan pernah berhenti melakukan pelatihan atau sosialisasi meski pernah dilakukan kegiatan yang sama sebelumnya,” kata Kepala Bidang Evaluasi Potensi Bencana pada Pusat Vulkanologi Bencana dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Gatot Mohammad Sudrajat, di Tasikmalaya, Selasa.

Terkait dengan status gunung api, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Barat, Ade Edward, mengingatkan perlunya dioptimalkan peran kepala seksi vulkanologi mitigasi bencana geologi yang ada di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral pada setiap provinsi.

”Peran pemangku jabatan itu terkait dengan status gunung api di masing-masing daerah. Peran itu seperti yang sekarang dijalankan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono,” katanya.

(CHE/INK/ATO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau