Pendidikan

Ayo, Minimalkan Angka Remaja Putus Sekolah!

Kompas.com - 22/07/2011, 08:36 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Managing Director Putera Sampoerna Foundation, Nenny Soemawinata menyebutkan, merujuk pada data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) tahun 2009, terdapat sekitar 1,5 juta remaja di Indonesia tidak dapat melanjutkan pendidikan dan menjadi anak putus sekolah. Hal tersebut disebabkan beberapa hal, yang terbesar adalah karena alasan ekonomi. Menurutnya, 54 persen dari 1,5 juta remaja tersebut terpaksa berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya.

"Sedangkan 9,8 persen tidak melanjutkan sekolah karena bekerja atau membantu orang tua mencari nafkah," ungkap Nenny, Kamis (21/7/2011), di Sampoerna Academy Bogor Campus, Caringin, Bogor, Jawa Barat.

Artinya, lanjut Nenny, rata-rata masyarakat Indonesia hanya mengecap pendidikan hingga tingkat awal Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan hanya 10 persen yang melanjutkan pendidikan ke universitas. Melihat kondisi ini, lanjut Nenny, pihaknya akan membantu pemerintah untuk menekan angka remaja di Indonesia yang putus sekolah. Akan tetapi, hal akan terwujud jika ada pihak donor yang ikut bekerjasama dengan program ini.

“Pendidikan merupakan suatu kemewahan bagi sebagian masyarakat Indonesia dan terdapat 1,5 juta remaja usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena alasan keterbatasan ekonomi. Padahal pendidikan merupakan kunci dari pembangunan dan pembentukan calon pemimpin masa depan yang berkualitas yang diharap mampu menghadapi tantangan-tantangan era globalisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sesuai dengan motto ‘Learn Today, Lead Tomorrow’, Sampoerna Academy tidak hanya mengedepankan pendidikan akademis namun juga menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, toleransi dan kesadaran sosial yang diperlukan untuk membentuk pemimpin masa depan Indonesia.

"Untuk SMA, Sampoerna Academy hanya menyediakan kuota beasiswa lebih kurang 200 orang di setiap Campus Sampoerna Academy. Mungkin saja ada kenaikan, tetapi itu tergantung perusahaan pendonor juga," imbuhnya.

Bahkan, untuk siswa Sampoerna Academy yang ingin melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, akan diberikan kredit pinjaman yang bisa dicicil pada saat siswa tersebut sudah bekerja.

"Misalnya, siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi akan diberikan pinjaman sehingga bisa menyelesaikan sampai sarjana. Begitu lulus, akan diberikan tenggat waktu 6 bulan untuk mencari pekerjaan dan dibantu oleh Sampoerna Foundation. Ketika sudah bekerja, maka kredit pinjaman itu bisa dibayarkan dengan cara dicicil selama 14 tahun. Jadi tidak terlalu membebani," jelasnya.

Nenny mengungkapkan, saat ini tengah dirumuskan program-program berkesinambungan, termasuk membentuk tim khusus untuk menggalang dana dan menggandeng pihak-pihak yang memiliki visi sama untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia.

"Peran para pendonor sangat kita perlukan sehingga dapat menggalang dukungan lebih banyak untuk menekan angka putus sekolah di Indonesia. Saat ini, tahun 10 kita berdiri, sudah sekitar 36 ribu beasiswa yang kita berikan untuk siswa usia remaja, 19 ribu guru dan dosen, serta 38 sekolah," ungkap Nenny.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau