Tiru Etika di Kantor untuk Hubungan Asmara

Kompas.com - 22/07/2011, 08:49 WIB

KOMPAS.com - Di tempat kerja, Anda perlu memastikan agar hubungan dengan rekan kerja maupun atasan selalu terjaga, agar dapat membuat perjalanan karier lebih mulus dan berbuah sukses. Dalam kehidupan pribadi, Anda juga perlu menjaga relasi asmara dengan pasangan, agar saat-saat yang dihabiskan bersamanya tidak selalu berakhir dengan pertengkaran -dan semoga bisa berakhir di pelaminan. Setelah menikah, misi ini tidak lantas selesai. Sebab, secocok apa pun Anda dengan pasangan, pasti akan ada perbedaan pendapat untuk satu dan lain hal.

Banyak pakar yang memberikan berbagai tips jitu untuk mencapai keharmonisan dalam hubungan dengan orang-orang di tempat kerja maupun dalam hubungan asmara. Dan ternyata, beberapa tips yang Anda pikir begitu bermanfaat di dunia kerja, juga dapat diterapkan dalam percintaan. Inilah beberapa di antaranya untuk Anda terapkan:

1. Berpikirlah sebelum berbicara
Di kantor, Anda perlu berpikir masak-masak sebelum mengajukan pendapat, agar bos tidak menganggap Anda asal bunyi saja. Jadi, semua perkataan hendaknya dilandasi oleh data dan analisis yang tepat. Cara ini juga perlu diterapkan saat Anda akan mengajukan keluhan terhadap pasangan atau mengajaknya berdiskusi suatu hal yang sulit atau sensitif.

"Tanyakan pada diri Anda, apakah kata-kata Anda nanti akan membuat dia jadi tersinggung atau malah emosi?" saran Jennifer Hirsch, PsyD, seorang psikolog klinis dari New York City. Tidak hanya perasaan atasan yang perlu dijaga, melainkan juga perasaan pasangan. "Sempatkan berpikir dan memilah kata-kata yang akan diucapkan. Jangan lupa panggil juga dia dengan nama kesayangannya," imbuh Dr Hirsch lagi.

2. Kuasai teknik yang tepat
Saat menghadapi rekan kerja yang sulit diberi pengertian, apa yang Anda lakukan? Mungkin Anda akan mulai pembicaraan dengan berkata bahwa Anda paham apa yang dia rasakan. Kemudian, Anda tak lupa menyampaikan betapa Anda juga merasakan hal yang serupa. Setelahnya, barulah Anda memberi saran.

"Teknik seperti ini juga dapat Anda lancarkan saat berdiskusi dengan pasangan. Ini akan membuatnya lebih mudah menerima argumen Anda, sehingga kesepakatan bisa didapat dalam waktu lebih singkat," kata Jess McCann, dating coach dan penulis buku You Lost Him at Hello.

3. Mainkan perasaannya
Teknik kedua ini juga penting untuk Anda terapkan saat akan memengaruhi pasangan untuk melakukan apa yang Anda mau. Menurut McCann, teknik ini sangat populer di dunia kerja, namun juga efektif untuk diterapkan dalam hubungan asmara. Ini dia caranya: Pertama, angkat dirinya dengan melontarkan pujian atas tindakan yang ia lakukan. Setelah itu, "bumbui" lagi dengan kata-kata yang menyatakan harapan dan permintaan lainnya. Untuk mencegah perasaannya langsung down, segera angkat lagi dengan berkata bahwa biar bagaimanapun Anda tetap berterima kasih atas tindakannya tadi.

4. Singkirkan faktor ego
Banyak orang terlalu mengedepankan egonya. "Tidak hanya di dunia kerja, melainkan juga di hubungan personal," papar McCann.

Jangan ragu untuk menyatakan bahwa pasangan Anda memang benar. Ini akan menyelamatkan hubungan Anda, daripada membela diri dan mengarang berbagai alasan, mengambing-hitamkan orang lain, atau malah berbalik menyalahkan pasangan. "Katakan dengan lugas bahwa pasangan benar dan mintalah maaf padanya," anjur McCann. Ini akan membuat pasangan lebih menghargai Anda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau