KOMPAS.com — Pekan depan, Australia dan Malaysia akan meneken kerja sama penanganan pencari suaka. Teknisnya, Australia akan mengirim 800 pencari suaka ke Malaysia. Nanti, manusia-manusia itu ditukar dengan 4.000 pengungsi. "Hampir terlaksana. Kami dapat menjelaskan lebih banyak dalam beberapa hari ke depan," kata juru bicara Menteri Imigrasi Australia, Chris Bowen.
Saat ini, Australia menampung para pencari suaka di Pulau Christmas. Pulau itu kini sudah melebihi kapasitas. Selain itu, para pencari suaka sudah ditampung selama berbulan-bulan tanpa kepastian.
Saat ini, di seluruh fasilitas penampungan Australia terdapat sedikitnya 6.000 pencari suaka dari Irak, Iran, Sri Lanka, Vietnam, dan Afganistan. Sementara di Malaysia tahun lalu saja terdapat 25.600 pengungsi yang terdaftar di omisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR). Jumlah ini adalah yang terbesar dari berbagai kantor UNHCR.
Sementara itu, sebagaimana warta AP dan AFP pada Jumat (22/7/2011), aparat imigrasi Australia mengatakan, kerusuhan kembali terjadi di pusat penampungan Pulau Christmas yang melibatkan 100 pencari suaka. "Mereka menggunakan senjata rakitan dan melakukan pembakaran di beberapa tempat di dalam penampungan," kata seorang polisi.
Kelompok penasihat pengungsi mengatakan, para pencari suaka membaringkan diri di lubang-lubang dangkal untuk menggambarkan keputusasaan mereka. "Sekelompok pencari suaka menggali lubang di halaman penampungan mereka," kata penasihat pengungsi, Ian Rintoul, yang secara reguler menghubungi para pencari suaka lewat telepon.
"Mereka mengubur diri sebatas leher untuk menggambarkan protes bahwa tempat penampungan telah membunuh tubuh dan pikiran mereka," tambah Rintoul.