Sebelumnya, Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Soerjadi mensinyalir ada beberapa perwakilan negara asing yang mendekati purnawirawan TNI untuk memenangkan Sri Mulyani menjadi presiden pada 2014.
”Saya enggak ngerti siapa yang lobi dan apa yang dilobi. Kami tidak pernah melobi atau dilobi pihak asing,” kata Ketua Umum Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) Damianus Taufan, Jumat (22/7), di Jakarta.
Dia mengatakan, pihaknya sama sekali belum membuat langkah ke arah itu. Pasalnya, para kader Partai SRI masih sibuk mempersiapkan partai untuk verifikasi di Kementerian Hukum dan HAM yang batas waktunya Agustus mendatang.
Lebih lanjut, Damianus mengatakan, ia tidak melihat relevansi dukung-mendukung asing oleh Partai SRI. Pasalnya, pemilih adalah orang Indonesia. Sementara bantuan dana asing, selain tidak boleh, akan berisiko tinggi terhadap integritas Sri Mulyani.
Kader Partai SRI lain, Rocky Gerung, mengatakan, penyebutan nama Sri Mulyani oleh pihak asing adalah dalam konteks dikenalnya mantan menteri keuangan itu oleh dunia internasional. Apalagi, keterkenalan Sri Mulyani berada jauh di atas nama-nama calon presiden lain yang beredar saat ini.
Tentang pernyataan PPAD itu, Rocky menilai di satu sisi, propaganda hitam itu malah membawa manfaat bagi pendukung ataupun calon pendukung Sri Mulyani. Selain itu, ia menilai wacana itu datang dari kalangan purnawirawan yang ingin kembali ke UUD 1945 dan memiliki nasionalisme yang sangat tinggi.
”Sayangnya, mereka kurang analisis kontemporer sehingga ketika pernyataan itu muncul langsung ditunggangi pihak lain,” katanya.
Robertus Robet, Redaktur srimulyani.net, situs tentang etika publik yang terinspirasi dari kebijakan Sri Mulyani, mengatakan, dukungan terhadap Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 adalah wajar.
Ia mengatakan, Sri Mulyani belum pernah menyampaikan kesediaan untuk tampil sebagai pimpinan nasional, apalagi untuk pencalonan presiden pada Pemilu 2014. Namun, pengalaman Sri Mulyani sebagai pejabat Bank Dunia yang mengurus banyak negara di dunia secara tak langsung menunjukkan kemampuannya dalam memimpin negara.
Kesempatan Sri Mulyani untuk muncul sebagai pemimpin tumbuh secara alamiah. Regenerasi pimpinan nasional dari partai politik cenderung macet, sementara ada kejenuhan dalam politik kepartaian secara umum. Muncul juga propaganda negatif yang gencar pascakasus Bank Century. Situasi ini justru memunculkan figurnya.
Secara terpisah, anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, juga menilai dukungan terhadap Sri Mulyani wajar. Namun, akan lebih baik jika Sri Mulyani mau memberikan penjelasan terbuka tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus pemberian dana talangan kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.