Partai Tak Tahu Asing Dukung Sri

Kompas.com - 23/07/2011, 02:02 WIB

Jakarta, Kompas - Partai Serikat Rakyat Independen yang mengusung nama mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak tahu-menahu ada pihak asing yang melobi untuk memenangkan Sri Mulyani menjadi presiden 2014. Hal itu justru informasi baru bagi Partai SRI.

Sebelumnya, Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Soerjadi mensinyalir ada beberapa perwakilan negara asing yang mendekati purnawirawan TNI untuk memenangkan Sri Mulyani menjadi presiden pada 2014.

”Saya enggak ngerti siapa yang lobi dan apa yang dilobi. Kami tidak pernah melobi atau dilobi pihak asing,” kata Ketua Umum Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) Damianus Taufan, Jumat (22/7), di Jakarta.

Dia mengatakan, pihaknya sama sekali belum membuat langkah ke arah itu. Pasalnya, para kader Partai SRI masih sibuk mempersiapkan partai untuk verifikasi di Kementerian Hukum dan HAM yang batas waktunya Agustus mendatang.

Lebih lanjut, Damianus mengatakan, ia tidak melihat relevansi dukung-mendukung asing oleh Partai SRI. Pasalnya, pemilih adalah orang Indonesia. Sementara bantuan dana asing, selain tidak boleh, akan berisiko tinggi terhadap integritas Sri Mulyani.

Kader Partai SRI lain, Rocky Gerung, mengatakan, penyebutan nama Sri Mulyani oleh pihak asing adalah dalam konteks dikenalnya mantan menteri keuangan itu oleh dunia internasional. Apalagi, keterkenalan Sri Mulyani berada jauh di atas nama-nama calon presiden lain yang beredar saat ini.

Tentang pernyataan PPAD itu, Rocky menilai di satu sisi, propaganda hitam itu malah membawa manfaat bagi pendukung ataupun calon pendukung Sri Mulyani. Selain itu, ia menilai wacana itu datang dari kalangan purnawirawan yang ingin kembali ke UUD 1945 dan memiliki nasionalisme yang sangat tinggi.

”Sayangnya, mereka kurang analisis kontemporer sehingga ketika pernyataan itu muncul langsung ditunggangi pihak lain,” katanya.

Wajar

Robertus Robet, Redaktur srimulyani.net, situs tentang etika publik yang terinspirasi dari kebijakan Sri Mulyani, mengatakan, dukungan terhadap Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 adalah wajar.

Ia mengatakan, Sri Mulyani belum pernah menyampaikan kesediaan untuk tampil sebagai pimpinan nasional, apalagi untuk pencalonan presiden pada Pemilu 2014. Namun, pengalaman Sri Mulyani sebagai pejabat Bank Dunia yang mengurus banyak negara di dunia secara tak langsung menunjukkan kemampuannya dalam memimpin negara.

Kesempatan Sri Mulyani untuk muncul sebagai pemimpin tumbuh secara alamiah. Regenerasi pimpinan nasional dari partai politik cenderung macet, sementara ada kejenuhan dalam politik kepartaian secara umum. Muncul juga propaganda negatif yang gencar pascakasus Bank Century. Situasi ini justru memunculkan figurnya.

 

Secara terpisah, anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, juga menilai dukungan terhadap Sri Mulyani wajar. Namun, akan lebih baik jika Sri Mulyani mau memberikan penjelasan terbuka tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus pemberian dana talangan kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.

(iam/edn)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau