Partai demokrat

Demokrat Kurang Selektif Pilih Kader

Kompas.com - 23/07/2011, 12:04 WIB

BOGOR, KOMPAS.com -- Ketua DPP Partai Demokrat Gede Pasek Suardika mengakui partainya tidak maksimal dalam menyaring calon kader. Akibatnya, banyak kader bermasalah yang berlindung di balik bendera Demokrat.

"Beberapa yang masuk membawa masalah masa lalu yang tidak sempat diverifikasi," kata Gede Pasek dalam diskusi Polemik Trijaya bertajuk "Demokrat di Tengah Badai" di Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7/2011).

Banyaknya kader bermasalah di tubuh Demokrat tersebut, kata Gede Pasek, merupakan suatu fakta yang harus dibenahi. "Saat ini cikup banyak kader partai Demokrat menjadi tersangka. Ini menjadi sebuah fakta. Kalau ada masalah seperti ini, kita bersihkan," ujarnya.

Menurut Pasek, hal tersebut dapat dipahami, mengingat partai pemenang Pemilu tersebut tergolong partai baru. Dalam proses yang baru, kata dia, perlu banyak pengalaman.

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai, Partai Demokrat teledor dalam menyeleksi kader-kadernya. Ketua DPP partai biru itu juga teledor dalam menempatkan sejumlah kader pada posisi-posisi penting. "Anas salah memilih Nazaruddin, yang sudah terkenal bermasalah sebelum menjadi bendahara Partai Demokrat. Sementara Andi Nurpati, the most controversial di KPU, langsung masuk," kata Burhanuddin.

Dia menambahkan, Demokrat harus mulai menggelar bersih-bersih kader yang hanya mencari perlindungan di balik bendera partai. "Kader parasit seperti harus dipotong habis," katanya.

Sejumlah kader partai pemenang itu tengah menghadapi masalah hukum. Mereka antara lain Ketua Divisi Komunikasi Publik Demokrat, Andi Nurpati, Wakil Sekjen Angelina Sondakh, anggota fraksi Partai Demokrat di parlemen, Mirwan Amir, dan M Nasir. Andi terlibat dalam kasus dugaan pemalsuan surat palsu Mahkamah Konstitusi. Sementara Angelina, Mirwan, dan Nasir disebut-sebut terlibat dalam kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games bersama dengan Nazaruddin yang menjadi tersangka dalam kasus itu dan juga merupakan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau