DENPASAR, KOMPAS.com — Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kadek Suartaya, S.SKar, MSi, mengatakan, konstruksi karakter bangsa merupakan fondasi signifikan dalam kehidupan berbangsa di era globalisasi dewasa ini.
"Karut-marut kehidupan berbangsa dewasa ini tidak terlepas akibat kelalaian membangun karakater bangsa itu," kata Kadek Suartaya di Denpasar, Minggu (24/7/2011).
Ia mengatakan, Presiden pertama RI Soekarno dan Ki Hajar Dewantara telah jauh-jauh hari mengingatkan pentingnya karakter bangsa dan perlunya pembangunan karakter bangsa itu, yang salah satunya dapat digali dan ditimba dari jagat seni.
Seni tradisi sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berkarakter dapat dikembangkan sesuai tuntutan dan perkembangan zaman. Hal itu penting karena globalisasi memengaruhi hampir semua aspek kehidupan masyarakat.
"Meneropong jagat seni dalam konteks globalisasi dewasa ini menghadapkan kita pada berbagai panorama masa depan yang menjanjikan berbagai optimisme sekaligus pesimisme. Sebagai bagian dari peradaban global, masyarakat Indonesia kiranya sulit melepaskan diri dari arus transformasi budaya," ujar Kadek Suartaya.
Konsekuensinya, menurut Kadek Suartaya, terjadi pergeseran nilai-nilai yang membawa dampak besar dalam berbagai aspek kehidupan penghuni jagat ini, termasuk pada ekspresi artistik.
Seni tradisi, khususnya sebagai representasi karakter bangsa, mengaktualisasikan diri di tengah hegemoni globalisasi tersebut akibat dilema kultural seni tradisi di tengah transformasi budaya yang dibawa oleh gelombang globalisasi.
Selain itu, rekonstruksi dan dekonstruksi seni tradisi sebagai proses kreativitas seni membangun karakter bangsa, yang mendorong proses berkesenian, khususnya seni pertunjukan di Pulau Dewata.
Kadek Suartaya menambahkan, seni tradisi pada hakikatnya merupakan representasi dari kebudayaan luhur, yang sejak dulu telah menjadi media pendidikan yang ampuh dalam membentuk karakter masyarakatnya.
Di Bali, hampir dalam semua seni pertunjukan tradisi, selain berfungsi sebagai persembahan, juga berkontribusi penting terhadap pencerahan karakter masyarakatnya.
Saat menonton teater topeng atau dramatari Gambuh di pura, misalnya, penonton memperoleh spirit keagamaan dan siraman rohani.
Demikian pula ketika menonton arja atau drama gong, masyarakat penonton menyerap nilai-nilai moral dan sosial yang berguna.
Lebih-lebih jika menyimak pementasan wayang kulit, penonton akan dihidangkan ensiklopedi kehidupan yang semuanya patut dijadikan pegangan diri.
Namun, masyarakat modern masa kini telah kehilangan orientasi hidup, terombang-ambing oleh kusutnya zaman. Pergeseran budaya dan nilai-nilai mendistorsi pola pikir dan perilaku masyarakat.
"Guncangan budaya tersebut sekaligus berimbas pada keberadaan lokal jenius yang terurai dalam ekspresi seni tradisi bangsa," tutur Kadek Suartaya.*
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang