Tragedi norwegia

Pelaku Inginkan Revolusi di Eropa

Kompas.com - 25/07/2011, 03:57 WIB

Oslo, Minggu - Anders Behring Breivik (32), pelaku peledakan bom dan penembakan brutal di dua lokasi di Norwegia yang menewaskan sedikitnya 93 orang, mengaku ingin mengubah struktur masyarakat Norwegia dan Eropa melalui revolusi.

Demikian diungkapkan pengacara Breivik, Geir Lippestad, kepada sejumlah media setempat, Minggu (24/7). Breivik menyerahkan diri kepada polisi setelah membantai tak kurang dari 85 orang di Pulau Utoya, tempat kemah musim panas angkatan muda Partai Buruh diselenggarakan, Jumat.

Menurut Lippestad, Breivik menyerang anggota dan struktur masyarakat di Norwegia. ”Ia menginginkan perubahan dalam masyarakat dan, menurut perspektifnya, ia perlu memaksakan itu melalui revolusi,” tutur Lippestad.

Breivik juga diketahui memasang manifesto politik setebal 1.500 halaman di sebuah laman Kristen fundamentalis. Pernyataan bernada anti-Islam dan berjudul ”2083-Deklarasi Kemerdekaan Eropa” itu dipasang hanya beberapa jam sebelum serangan. ”Manifesto ini dipasang pada hari peristiwa itu terjadi. Kami sudah mengonfirmasi hal itu,” kata pejabat Kepala Kepolisian Norwegia, Sveinung Sponheim.

Dalam manifesto tersebut, Breivik menyebut sedang terjadi, antara lain, Islamisasi di Eropa Barat dan orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi akan dihukum karena telah berkhianat.

”Kami, warga asli Eropa, dengan ini menyatakan perang pre-emptive terhadap kaum elite Marxist kultural/multikulturalis di Eropa Barat. Kami tahu siapa kalian, di mana kalian tinggal, dan kami akan datang ke tempat kalian. Kami sedang dalam proses menandai setiap pengkhianat multikulturalis di Eropa Barat. Kalian akan dihukum karena tindak pengkhianatan kalian terhadap Eropa dan orang Eropa,” kata manifesto tersebut.

Beraksi sendirian

Polisi belum memastikan apakah manifesto itu dibuat sendiri oleh Breivik. Namun, Lippestad mengacu pada dokumen tersebut seraya mengatakan Breivik telah menyusun rencana bertahun-tahun.

Kepada polisi, Breivik mengaku beraksi sendirian. Namun, para korban selamat dari pembantaian di Utoya mengatakan, ada dua penembak pada hari tragedi tersebut. Walaupun demikian, polisi belum menemukan tersangka kedua atau orang-orang yang kemungkinan membantu aksi Breivik.

Hari Minggu, polisi menggerebek dua lokasi di dekat Oslo dan dikabarkan menangkap enam tersangka. Akan tetapi, orang-orang tersebut dibebaskan sore harinya. ”Mereka yang sempat ditahan dan diinterogasi telah dibebaskan. Mereka (ternyata) tidak terkait kasus ini,” kata juru bicara kepolisian, Anders Frydenberg.

Polisi juga secara resmi menambah jumlah korban tewas menjadi 93 orang setelah satu orang yang terluka akhirnya meninggal, Minggu. Jumlah korban masih bisa bertambah karena hingga saat ini masih ada korban hilang, baik di lokasi pengeboman di pusat kota Oslo maupun di Pulau Utoya.

Breivik akan mulai diadili hari Senin ini dengan dakwaan terorisme. (AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau