Jakarta, Kompas
Hal itu dikatakan Kepala Dinkes TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Sakti Hoetama di sela-sela Joint Conference of Asian Hyperbaric and Diving Medical Association, Jumat (22/7) di Jakarta. Pihaknya mendorong Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kelautan (Perdokla), dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia mengedukasi penyelam tradisional.
Sakti mengatakan, pengobatan untuk para penyelam tradisional terkendala ketersediaan alat-alat kesehatan, seperti chamber (tabung awak bertekanan). Alat ini hanya tersedia di kota besar.
Sekretaris Perdokla Susan H Manungkalit mengatakan, penyakit penyelaman yang mengakibatkan kelumpuhan biasanya dimulai dari gejala gangguan sendi dan pendengaran. Ini terjadi karena penyelaman terlalu dalam dan naik terlalu cepat.
Akibatnya, molekul nitrogen terjebak dalam jaringan tubuh dan menyebabkan kelumpuhan. Jika diatasi dengan cepat, hal ini dapat disembuhkan. Caranya, mengembalikan penyelam ke kedalaman semula. Selanjutnya diberi oksigen murni.
Kepala Subdepartemen Faal Penyelaman TNI AL Armada Timur Titut Harnanik mengatakan, banyak dokter tak paham penyakit akibat penyelaman. Ia mencontohkan, pasien dekompresi yang mengalami kelumpuhan didiagnosis sebagai stroke dan penderita emboli udara (masuknya gas ke dalam peredaran darah) didiagnosis sebagai penyakit asam urat.
Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Ditjen Bina Upaya Kesehatan Irmansyah menyatakan, hasil survei, 96,1 persen penyelam tradisional mengalami keluhan yang merupakan gejala awal dari penyakit akibat penyelaman.