Data siswa miskin

Mendiknas Bantah "Database" Siswa Miskin Lemah

Kompas.com - 25/07/2011, 13:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh membantah jika kementeriannya tidak sanggup menyajikan data individual terkait jumlah siswa miskin di seluruh Indonesia. Menurut Nuh, selama ini penyaluran subsidi beasiswa miskin selalu mengacu pada data individual siswa miskin tersebut.

Data individual bermanfaat untuk memetakan berapa jumlah siswa miskin di semua jenjang (SD, SMP dan SMA) di seluruh Indonesia. Selain itu, data individual juga menjadi salah satu tolok ukur saat Kementerian Pendidikan Nasional mengajukan Rencana Anggaran Pembelanjaan dan Pendapatan Negara Perubahan (RAPBN-P) 2011 yang telah disetujui oleh Komisi X DPR sebanyak Rp 11,76 triliun beberapa waktu lalu.

"Data individual siswa miskin itu ada, bahkan ada data setiap anaknya," kata Nuh seusai melantik pejabat eselon satu Kemdiknas, Senin (25/7/2011), di Jakarta.

Ada beberapa cara untuk memperoleh data individu jumlah siswa miskin. Jumlah angka kemiskinan di kabupaten/kota disandingkan dengan kategori usia penduduknya. Setelah itu,  dapat dipetakan berapa jumlah penduduk miskin, berapa yang belum masuk usia sekolah dan berapa jumlah yang sudah masuk usia sekolah.

"Angka kemiskinan di setiap kabupaten/kota persentasenya memang berbeda-beda. Namun, kita dapat mengetahui berapa jatah beasiswa untuk siswa miskin setelah menyandingkan jumlah warga miskin dengan kategori usianya," ujar Nuh.

Nuh menjelaskan, data tersebut memang merujuk dari data warga miskin yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk besaran jumlah beasiswa miskin yang akan disalurkan, ia mengaku berencana akan menyeragamkan nominalnya, sekitar Rp 360.000 per anak per tahun.

"Kami merujuk pada data BPS karena kami tidak mungkin membuat data sendiri. Setiap bulan siswa bisa mendapat Rp 30.000-Rp 40.000. Uang itu bisa digunakan untuk biaya operasional, seperti beli buku dan tas," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kemdiknas, Nono Adya Supriatno, mengatakan, Kementerian Pendidikan Nasional tidak mempunyai data individual terkait jumlah siswa miskin jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Hal ini diakuinya sebagai kelemahan Kemdiknas dan ditengarai sebagai salah satu pemicu sulitnya menekan angka putus sekolah.

Menurut Nono, kesulitan menyajikan data individual siswa miskin disebabkan sumber daya pekerjanya tidak mampu memperoleh dan mengolah data tersebut dari berbagai sumber.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau