5 Pelajaran Penting untuk Anak Laki-laki

Kompas.com - 26/07/2011, 07:42 WIB

KOMPAS.com — Ada yang bilang, ketika dewasa anak laki-laki cenderung mencari pasangan yang memiliki karakter seperti ibunya. Menurut pakar, hal ini karena sang ibu adalah salah satu role model bagi anak laki-laki pada saat menjalani proses tumbuh kembangnya. Dari ibu, anak-anak dapat belajar banyak seputar kemampuan emosi. Nah, bila Anda berharap memiliki anak laki-laki yang nantinya tumbuh menjadi orang yang peduli terhadap sesama, penuh rasa percaya diri, dan berani menerima tanggung jawab, asuhlah dia dengan baik sejak kecil. Jangan lupa, bekali dirinya dengan mengajarkan empat hal berikut ini:

1. Sopan santun
Membiasakan anak laki-laki untuk membukakan pintu, berjalan di sisi paling luar ketika menyeberang bersama adik perempuannya, hingga memberikan tempat duduknya kepada kakek-nenek yang ia temui di bus, mungkin mulai terlupakan oleh para orangtua masa kini. Banyak yang merasa tak perlu mengajarkan hal seperti itu karena menganggap itu tata cara kuno. Namun, ternyata kebiasaan-kebiasaan kecil yang diajarkan kepada anak laki-laki pada usia dini bisa membuat mereka bersikap lebih sopan saat dewasa nanti. Ia juga akan lebih berempati terhadap orang lain dan lebih peduli terhadap sekitarnya.

Riset dari University of Michigan memperlihatkan, kemampuan berempati kepada para mahasiswa di masa sekarang telah menurun sekitar 40 persen dibandingkan 20 tahun lalu. Ada dua alasan yang diberikan para peneliti. Pertama, hobi bermain video game yang memperlihatkan kekerasan (seperti adu laga) sehingga anak jadi cenderung mati rasa terhadap penderitaan orang lain. Yang kedua adalah pesatnya jejaring sosial yang memungkinkan anak untuk memiliki "teman-teman" virtual tanpa harus mengenal mereka satu persatu dengan lebih mendalam.

2. Mengelola emosi dengan baik
Pria yang baik adalah yang tahu bagaimana mengendalikan emosinya. Bila Anda selalu menegurnya di kala ia menunjukkan rasa marah ataupun sedih, sebaiknya hentikan. "Anda mungkin berpikir bahwa lelaki yang baik seharusnya terlihat kuat dan tidak banyak bicara. Namun, sebenarnya semua itu terlalu stereotip," kata Christine Nicholson, PhD, psikolog dari Washington.

Jangan halangi dia mengungkapkan apa yang dirasakan. Doronglah ia untuk membicarakan perasaannya dan bantulah menemukan solusi permasalahannya. Jika Anda sering mengatakan bahwa itu bukan tindakan yang pantas dilakukan laki-laki, ia akan belajar untuk menyembunyikan perasaannya. Saat dewasa, ia tidak dapat berkomunikasi dengan baik—mungkin malah lebih memilih adu jotos atau minum-minum untuk melampiaskan perasaan.

3. Keberanian
Dalam kehidupan sehari-hari, sosok seperti polisi, pemadam kebakaran, atau tentara, tidaklah asing di mata anak-anak. Tugas ibu adalah memperkenalkan konsep keberanian melalui figur-figur ini. Saat menonton petugas kebakaran yang menyelamatkan korban kebakaran, jelaskan padanya bahwa tindakan yang gagah berani bukan berarti berbuat semena-mena terhadap orang lain, melainkan justru menyelamatkan serta melindungi yang lemah—meskipun dengan risiko gugur saat bertugas. Dari sini, ia akan belajar untuk berani bertanggung jawab dan menerima risiko, baik dalam kehidupan secara keseluruhan maupun dalam hubungannya dengan orang lain.

4. Menghargai orang lain
Ketika anak melanggar aturan yang Anda tetapkan di rumah, mulai dari bicara dengan bahasa yang tidak pantas hingga melakukan hal-hal yang terlarang, berikan konsekuensi dan pegang kata-kata Anda. "Anak laki-laki akan menghormati orang dewasa yang tegas, tetapi tidak menggunakan kekerasan dalam menerapkan aturannya," kata Michael Gurian, penulis buku The Purpose of Boys.

"Sebaliknya, bila Anda selalu memaklumi tindakan anak, atau memberikan konsekuensi tapi kemudian disertai kelonggaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang termotivasi, manja, dan tidak peduli terhadap orang lain," ujarnya.

Tugas Anda berikutnya adalah memberikan contoh yang baik di rumah. Perlihatkan kepadanya bagaimana Anda menghargai orang lain, seperti gurunya, orangtua teman-temannya, hingga orang-orang tidak dikenal yang Anda jumpai di jalan. Dengan demikian, anak akan mendapatkan contoh nyata yang dapat ia tiru saat dewasa kelak.

5. Mengasihi sesama
Pria yang dapat mengekspresikan rasa cintanya kepada orang lain dapat dipastikan telah tumbuh di bawah siraman kasih sayang orangtuanya. Dan, dalam hal mengungkapkan cinta terhadap lawan jenis, pria banyak belajar dari ibunya. Mungkin, sewaktu dia masih kecil Anda selalu memeluk dan menciumnya. Tapi sejalan dengan pertambahan usia, mereka mulai menampik ciuman Anda.

Menurut Dan Kindlon, PhD, pakar dari Harvard School of Public Health, semakin besar anak laki-laki mulai memisahkan diri dari ibunya agar bisa lebih mandiri. Namun, bukan berarti Anda berhenti memperlihatkan rasa cinta Anda. Pilih-pilihlah waktu dengan tepat, seperti dengan memeluknya ringan di depan teman-temannya (bukannya mencium kedua pipinya).

"Ingat, anak laki-laki perlu mengalami sentuhan kelembutan dari sang ibu meskipun ia mungkin tidak pernah memintanya," kata Kindlon.

(Dari berbagai sumber)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau