Masalah Daerah Dibahas

Kompas.com - 27/07/2011, 04:37 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Perwakilan badan eksekutif mahasiswa (BEM) dari perguruan tinggi berbagai wilayah di Indonesia, Selasa (26/7), mengusung permasalahan yang dihadapi di daerah dalam sidang hari ke dua pelaksanaan Rapat Kerja Nasional BEM Seluruh Indonesia di Bandung. Berbagai masukan itu akan dikerucutkan menjadi agenda perjuangan yang bisa dilakukan serentak di seluruh daerah.

Koordinator BEM pusat, M Sayyidi, menyatakan, hari ke dua rakernas diisi dengan pemaparan perwakilan sembilan wilayah dari seluruh Indonesia. Setelah itu, 10 koordinator isu juga memaparkan berbagai isu yang meliputi penanganan korupsi, pendidikan, hingga kesehatan.

Di tengah acara juga digelar diskusi yang menghadirkan mantan aktivis mahasiswa, Fadjroel Rachman, dengan paparannya tentang analisa gerakan mahasiswa pasca-1998.

Dikatakan Sayyidi, permasalahan yang dikemukakan perwakilan wilayah sangat beragam, seperti lingkungan yang dikemukakan perwakilan dari wilayah Sumatera bagian selatan. ”Semua berbicara dengan data, bukan opini maupun asumsi dari orang lain atau bahkan di media massa,” katanya.

Sri Lindawati dari BEM Institut Pertanian Bogor, kata Sayyidi, mengangkat masalah ketahanan pangan yang gagal dikelola oleh pemerintah. Dia menyebut ketergantungan yang tinggi terhadap impor hingga ketidakmampuan dalam menjamin kelancaran pasokan makanan.

Ketergantungan tinggi terhadap beras bisa menjadi indikator baku bahwa pemerintah belum bisa mendiversifikasikan makanan pokok bagi warganya. Padahal, di beberapa daerah sudah melakukannya, seperti nasi singkong yang dikonsumsi warga Kampung Adat Cirendeu, Cimahi.

M Fauzi Muhajir, perwakilan dari BEM Universitas Mataram, mengatakan, desentralisasi justru membawa permasalahan di daerah. Pembangunan tidak kunjung terjadi dan dana lebih banyak habis untuk pencitraan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Nusa Tenggara Barat merupakan peringkat ke 32 dari 33 provinsi. ”Awalnya pemerintah daerah menargetkan untuk membalik jadi peringkat 23, ujung-ujungnya hanya menargetkan untuk naik ke peringkat 31,” ujarnya.

Perwakilan Universitas Syiah Kuala Aceh, Alfiyan Muhiddin, mengungkapkan, pemerintah belum serius menggarap pendidikan di daerah. Dia menyebut angka kelulusan di Sumatera bagian utara jauh tertinggal.

Independen

Menurut Sayyidi, perumusan agenda pergerakan mahasiswa dilakukan dengan obyektif serta independen. Dia menyebut tidak ada satu pun pihak yang membonceng acara ini dan menitipkan kepentingannya.

”Pembiayaan dilakukan secara swadaya dari masing-masing BEM yang ikut serta. Tidak perlu gedung mewah asalkan hasilnya bisa disebarluaskan,” katanya.

Sayyidi menuturkan, pelaksanaan Rakernas BEM Seluruh Indonesia sebelumnya yang berlangsung di Medan, berakhir dengan pemberhentian keanggotaan 9 BEM karena terindikasi mendapat sokongan dana dari Wali Kota Medan untuk penyelenggaraan acara. Langkah itu dilakukan untuk menjaga independensi meski BEM yang menerima dana tersebut bisa jadi tidak memiliki maksud apa pun.

Presiden BEM Republik Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Ali Mahfud, mengungkapkan, banyak pihak menuding rakernas ini disusupi kepentingan politis, salah satunya menurunkan presiden. Padahal, yang dilakukan adalah mencari isu pergerakan yang populis sehingga mendapatkan dukungan dari seluruh masyarakat. (eld)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau