Kitosan, Bahan Sel Punca Gigi

Kompas.com - 27/07/2011, 06:45 WIB

Jakarta, Kompas - Kitosan yang diolah dari cangkang udang, rajungan, dan kepiting digunakan untuk mengembangkan sel punca pada tulang gigi. Pengembangan teknologi mutakhir bidang kedokteran ini memungkinkan pemulihan tulang gigi yang retak dan hendak tanggal.

”Gigi goyang itu indikasi ada kerusakan tulang gigi. Jangan dicabut karena bisa dipulihkan dengan sel punca ditambah kitosan,” kata Yuniarti Soeroso pada penyampaian disertasi doktornya yang berjudul Efek Paparan Kitosan dari Kulit Udang terhadap Osteogenesis Sel Punca yang Diisolasi dari Ligamentum Periodontal, Selasa (26/7) di Jakarta.

Yuniarti, staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Periodontologi Indonesia periode 2011-2015.

Dalam pengujian itu, majelis sidang yang diketuai Bambang Irawan menetapkan Yuniarti lulus sebagai doktor dengan yudisium cumlaude.

Yuniarti mengatakan, untuk mengembangkan sel punca gigi, diambil sel ligamentum periodontal, yaitu jaringan ikat dari tulang atau tulang rawan gigi. Sel ini kemudian diisolasi dan diidentifikasi dengan Antibodi Stro-1 untuk mendapatkan sel punca.

”Sel punca itu kemudian dipapar dengan kitosan untuk menumbuhkan kembali tulang gigi,” kata Yuniarti.

Dalam penelitiannya, Yuniarti menggunakan paparan kitosan untuk sel punca tulang gigi sebanyak 0,025 persen; 0,1 persen; 0,15 persen; 0,2 persen; 0,25 persen; dan 0,5 persen.

Berdasarkan hasil uji, kadar 0,15 persen menunjukkan viabilitas yang paling tinggi. ”Kitosan pada konsentrasi 0,15 persen memiliki efek tertinggi untuk menstimulasi perkembangan sel punca,” kata dia.

Yuniarti membandingkan, penerapan sel punca tulang gigi dengan bahan kitosan dari Jepang biayanya Rp 3 juta per satu gigi. Pembuatan kitosan menggunakan bahan baku cangkang udang, rajungan, dan kepiting yang cukup berlimpah di Indonesia diharapkan bisa menekan biaya sehingga per gigi hanya Rp 500.000.

”Saya berharap ada penelitian lebih lanjut untuk menguji coba sel punca tulang gigi pada hewan percobaan,” kata Yuniarti. (NAW)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau