Indonesia Kembangkan Vaksin Kontrasepsi

Kompas.com - 27/07/2011, 10:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Bio Farma bersama dengan tim peneliti dari Universitas Brawijaya Malang mengadakan kerja sama penelitian untuk vaksin kontrasepsi pria dan wanita. 

Penelitian tentang vaksin kontrasepsi sendiri sudah dilakukan sejak belasan tahun lalu oleh tim peneliti Universitas Brawijaya (Unibraw).  Untuk vaksin kontrasepsi wanita, penelitiannya kini bahkan sudah dalam tahap final dan akan segera diproduksi.

"Secara penelitian, ini sudah final. Tinggal sedikit berharmonisasi dengan produksi di Biofarma," kata  Prof Dr Drh Aulanni`am, DES, anggota tim peneliti Unibraw, dalam acara Forum Riset Vaksin Nasional 2011 di Jakarta, Selasa (26/7/2011) kemarin.

Pada prinsinpinya, ujar Aulanni, vaksin kontrasepsi wanita berbeda dengan alat KB suntik yang ada. Vaksin kontrasepsi yang sedang dikembangkan ini berupa protein yang akan mengenali molekul zona pelusida atau protein di luar sel telur yang berfungsi mengenali sperma (reseptor) dan membuatnya tidak lagi mengenali sperma. Penelitian di Unibraw ini diawali dengan membuat poliklonal antibodi terhadap zona pellusida-3 (ZP3) sebagai reseptor sperma.

"Kalau kita membuat antibodi terhadap pada ZP3 itu, dia akan menempel ke ZP3 itu sehingga semua protein yang melingkari sel telur itu berubah formasinya. Karena itu, begitu ada sperma datang tidak mengenali lagi," ujarnya.

Protein ini, menurut dia, bersifat reversible dan tidak menyebabkan patologis di saluran reproduksi wanita. Vaksin kontrasepsi ni juga sudah dicobakan pada hewan Makaka vesicularis (monyet). "Ada kesamaan antarmamalia sehingga sumber ini bisa dipakai untuk yang lain," kata Aulanni.

Menurut Aulanni, bahan dalam pembuatan vaksin ini juga aman dan halal karena berasal dari sel telur sapi. Cara kerjanya pun tidak jauh berbeda dengan suntik vaksin polio. Begitu disuntik, protein akan langsung menuju ke sel telur wanita.

Proyeksi ke depan, menurut dia, sejalan dengan program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Diharapkan vaksin kontrasepsi ini bisa masuk anggaran pemerintah sehingga bukan tak mungkin dapat dinikmati secara gratis oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Bahkan, vaksin kontrasepsi tersebut, ujarnya, sudah ada rencana untuk dipasarkan di China. "Pertumbuhan di sana lebih banyak. Jadi ke depannya bisa menjalin kerja sama dengan China. Rencananya akhir tahun ini, tetapi paling cepat akhir 2012," katanya.

Kesuksesan pengembangan riset vaksin kontrasepsi wanita, menurut Aulanni, diharapkan bakal diikuti vaksin kontrasepsi pria. Pasalnya, vaksin kontrasepsi untuk kaum Adam ini juga dinilainya memiliki prospek bagus karena memiliki sejumlah kelebihan.

Kelebihannya antara lain tidak mengganggu hormon dan libido pria, jangka waktu penyuntikan yang cukup lama, serta dapat dengan mudah kembali ke kondisi kesuburan semula setelah suntikan dihentikan. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau