Jakarta, Kompas
Tahap I pembangunan Terminal Peti Kemas Sorong direncanakan berlangsung tahun 2011-2016, dengan total biaya
”Terminal Peti Kemas Sorong akan segera menjadi pelabuhan pengumpul di Samudra Pasifik bagian barat sebab lokasinya sangat strategis, di antara Timor Leste, Australia, Filipina, China, dan Papua Niugini,” kata Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino, Rabu (27/7), di Jakarta.
Nota kesepahaman tentang pembangunan terminal peti kemas itu ditandatangani Rabu kemarin oleh konsorsium pengembang, yakni direksi-direksi PT Pelindo II, PT Pelindo IV, PT Samudera Indonesia, PT Meratus Lines, PT Salam Pacific Indonesia Lines, PT Tempuran Mas, PT Tanto Intim Line, PT Pembangunan Perumahan, dan pemerintah daerah Sorong, disaksikan oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi.
”Pemerintah menyambut baik inisiatif Pelindo II untuk menjangkau lebih luas lagi wilayah-wilayah di luar Jawa-Bali, hingga Indonesia timur,” kata Menhub. Dia menambahkan, dalam hal pembiayaan, Pelindo II telah memperlihatkan kemampuan menggalang komitmen dari pebisnis transportasi lainnya.
Di tahap I, kata RJ Lino, proyek ini akan dibiayai oleh dana internal sebesar 30 persen dan dana pinjaman sebesar 70 persen. Sementara pemenuhan fasilitas dan alat kerja dapat dengan cara sewa atau menggaet investor lain.
”Ketika Pelindo II, baru mengumumkan rencana pembangunan saja, dua operator kapal terbesar di dunia, Maersk Line dan CMA CGM dari Perancis, menelepon saya. Mereka sangat tertarik dengan pelabuhan Sorong, mudah-mudahan juga tertarik berinvestasi,” kata Lino.
Terminal Peti Kemas Sorong akan dibangun di Pulau Teleme, di sekitar Selat Sele, di selatan Sorong. Perairan di sana sangat potensial dengan kedalaman draft sampai 18 meter. Lahan di sana juga sangat luas, dengan potensi pengembangan hingga 3.000 hektar.
Dikatakan Lino, dalam lima tahun pertama, Terminal Peti Kemas Sorong dioperasikan oleh Eurogate. ”Mereka salah satu operator terbaik di Eropa. Dalam lima tahun, Sorong akan jadi pelabuhan berskala dunia. Lalu, kita ambil alih,” ujarnya.
Desember 2011, kata Lino, sebanyak 250 anak Papua akan dilatih di Tanjung Priok supaya siap bekerja di Sorong. ”Ini keberpihakan Pelindo kepada tenaga kerja setempat. Mereka pasti bisa,” ujar Lino.
Bila terminal Sorong selesai dibangun, waktu tunggu kapal dari 4 hari akan turun menjadi 1-1,5 hari. ”Biaya pengiriman peti kemas yang tadinya Rp 19 juta per TEUs, saya perkirakan turun di bawah Rp 10 juta per TEUs karena efisiensi pelabuhan membaik,” kata Lino.