Pelabuhan

Pelindo II Bangun Terminal Peti Kemas di Sorong

Kompas.com - 28/07/2011, 03:16 WIB

Jakarta, Kompas - PT Pelabuhan Indonesia II mengembangkan Terminal Peti Kemas Sorong di Papua Barat. Terminal itu akan mampu melayani kapal bermuatan lebih dari 3.000 twenty foot equivalent units atau peti kemas berukuran 20 kaki.

Tahap I pembangunan Terminal Peti Kemas Sorong direncanakan berlangsung tahun 2011-2016, dengan total biaya Rp 700 miliar. Ketika selesai terbangun, kapasitas terminal ini dapat menampung 400.000 TEUs per tahun.

”Terminal Peti Kemas Sorong akan segera menjadi pelabuhan pengumpul di Samudra Pasifik bagian barat sebab lokasinya sangat strategis, di antara Timor Leste, Australia, Filipina, China, dan Papua Niugini,” kata Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino, Rabu (27/7), di Jakarta.

Nota kesepahaman tentang pembangunan terminal peti kemas itu ditandatangani Rabu kemarin oleh konsorsium pengembang, yakni direksi-direksi PT Pelindo II, PT Pelindo IV, PT Samudera Indonesia, PT Meratus Lines, PT Salam Pacific Indonesia Lines, PT Tempuran Mas, PT Tanto Intim Line, PT Pembangunan Perumahan, dan pemerintah daerah Sorong, disaksikan oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi.

”Pemerintah menyambut baik inisiatif Pelindo II untuk menjangkau lebih luas lagi wilayah-wilayah di luar Jawa-Bali, hingga Indonesia timur,” kata Menhub. Dia menambahkan, dalam hal pembiayaan, Pelindo II telah memperlihatkan kemampuan menggalang komitmen dari pebisnis transportasi lainnya.

Di tahap I, kata RJ Lino, proyek ini akan dibiayai oleh dana internal sebesar 30 persen dan dana pinjaman sebesar 70 persen. Sementara pemenuhan fasilitas dan alat kerja dapat dengan cara sewa atau menggaet investor lain.

”Ketika Pelindo II, baru mengumumkan rencana pembangunan saja, dua operator kapal terbesar di dunia, Maersk Line dan CMA CGM dari Perancis, menelepon saya. Mereka sangat tertarik dengan pelabuhan Sorong, mudah-mudahan juga tertarik berinvestasi,” kata Lino.

Terminal Peti Kemas Sorong akan dibangun di Pulau Teleme, di sekitar Selat Sele, di selatan Sorong. Perairan di sana sangat potensial dengan kedalaman draft sampai 18 meter. Lahan di sana juga sangat luas, dengan potensi pengembangan hingga 3.000 hektar.

Dikatakan Lino, dalam lima tahun pertama, Terminal Peti Kemas Sorong dioperasikan oleh Eurogate. ”Mereka salah satu operator terbaik di Eropa. Dalam lima tahun, Sorong akan jadi pelabuhan berskala dunia. Lalu, kita ambil alih,” ujarnya.

Desember 2011, kata Lino, sebanyak 250 anak Papua akan dilatih di Tanjung Priok supaya siap bekerja di Sorong. ”Ini keberpihakan Pelindo kepada tenaga kerja setempat. Mereka pasti bisa,” ujar Lino.

Bila terminal Sorong selesai dibangun, waktu tunggu kapal dari 4 hari akan turun menjadi 1-1,5 hari. ”Biaya pengiriman peti kemas yang tadinya Rp 19 juta per TEUs, saya perkirakan turun di bawah Rp 10 juta per TEUs karena efisiensi pelabuhan membaik,” kata Lino. (RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau